AES 1580 Hidup Tidak Pernah Adil

"One of the mistakes many of us make is that we feel sorry for ourselves, or for others, thinking that life should be fair, or that someday it will be. It's not and it won't. When we make this mistake we tend to spend a lot of time wallowing and/or complaining about what's wrong with life. "It's not fair," we complain, not realizing that, perhaps, it was never intended to be." (Richard Carlson)
Bermula dari minum kopi. Sepertinya enak sekali bisa duduk minum kopi di pagi hari menikmati sarapan sekerat roti kismis ditutup dengan risoles sayur dan sebuah cabe rawit kecil. Lalu saya mulai berpikir, Nina yang kemungkinan punya kelenjar thyroidnya hiper aktif, sepertinya minum kopi itu tidak baik. Lalu saya buka mesin pencari untuk melihat apakah kecurigaan saya ini benar. Dan betul saja, kopi justru menambah parah gejala yang sedang dialami oleh penderita hyperthyroidism. Mau tidak mau saya berbisik kepada Nina. Kalau betul nanti hasil laboratorium menunjukkan bahwa dia mengidap kelenjar tiroid yang hiper aktif, maka kopi harus dihindari. Kafein meningkatkan detak jantung dan memperparah kondisi tubuh yang memang detak jantungnya sudah tinggi gara-gara kelenjar yang hiper aktif itu. Belum lagi nanti urusan mood swing yang kadang cenderung menunjukkan hal-hal negatif seperti kecemasan, gugup dan sikap mudah marah. Kalau begini saya harus siap-siap, kata saya dalam hati. Saya punya masalah thyroid juga tapi kebalikan dari apa yang mungkin sedang dihadapi Nina. Kalau saya pengidap Hashimoto, dimana kelenjarnya malas, dia justru kebalikannya. Pengalaman saya selama bertahun-tahun dalam hal mood swing membuat saya lebih aware. Itu juga alasan mengapa saya membatasi keluar rumah karena benci dengan kondisi lalulintas yang membuat kondisi emosi saya sering ter-compromised.
Gara-gara kopi, pagi ini saya jadi berpikir. Dulu sekali saya jarang ngopi apalagi pergi ke cafe karena masalah anggaran. Ngopi di cafe itu mahal! Mending beli kopi saset diseduh sendiri dengan biaya minim saya bisa menikmati kopi walau tidak sekeren nama-nama kopi di cafe seperti Americano, Long Black, dirty latte, atau cappuccino! Kopi saset walaupun ada yang namanya cappuccino, tidak akan membuat busa susu menempel di bibir! Hahaha..
Eniwei, sekarang saya bisa minum kopi kapanpun tapi kondisi tubuh sudah sedemikian rupa sehingga harus dibatasi, kasus Nina lebih parah lagi karena kondisi tubuhnya, dia malah tidak boleh minum. Dulu tiak punya uang, ketika punya tidak boleh. Menyebalkan, bukan?
Ini baru kopi, banyak hal lain dalam kehidupan kita yang dapat dijadikan contoh berkaitan dengan kondisi yang sama. Dulu tidak bisa karena keterbatasan tertentu, ketika sekarang bisa, ternyata tidak boleh. Hidup memang tidak adil!
Richard Carlson, seorang terapis psikologi, pengarang dan juga motivational speaker pernah mengatakan, seperti saya kutip di atas, bahwa hidup itu memang dirancang untuk tidak adil. Kalau sepanjang hidup kita terus menerus mengeluh bahwa ini tidak adil atau itu tidak adil, sebetulnya itu salah. Jadi saya tangkap dari yang beliau katakan, hidup itu tidak pernah adil, kalau kita terus berharap dan mengeluh ujungnya hanya buang-buang waktu. Lalu gimana dong?
Ya, mau tidak mau harus saya simpulkan tidak gimana-gimana. Hidup, kalau yang dikatakan oleh Richard Carlson itu betul, ya memang begitu. Terima saja dan manfaatkan serta nikmati sebaik-baiknya.
Saya pernah punya teman satu kantor, nama panggilannya Chuck. Beliau dulu bekerja sebagai polisi lalu ketika pensiun jadi polisi, beliau memilih bekerja di kampus sebagai staff safety yang bertugas menjaga keselamatan semua fasilitas gedung seperti mengawasi kondisi water sprinkler untuk pencegah kebakaran, memantau peralatan keselamatan seperti tabung pemadam kebakaran, mengawasi kebersihan serta keselamatan gedung dimana para penghuninya sering teledor dengan meletakan benda-benda besar yang dapat menghalangi proses evakuasi dalam keadaan darurat. Tugas lain seperti misalnya mengadakan fire drill bagi seluruh penghuni kampus. Jadi tidak aneh kalau beberapa kali dalam setahun tiba-tiba ada alarm lalu semua penghuni gedung harus mengikuti prosedur evakuasi dan keluar gedung sesuai dengan skenario. Semuanya harus diamati dan dihitung waktunya sebab ini berkaitan dengan nyawa dan keselamatan. Itu dulu pekerjaan Chuck hingga beliau berusia lanjut dan memutuskan untuk 100% pensiun. Beliau bekerja hampir sepanjang hidupnya selama puluhan tahun jadi polisi dan karyawan kampus. Beliau katanya ingin menikmati hidup dengan berlibur, bepergian, kemping, maupun mancing. Sayangnya baru 3 bulan pensiun beliau berpulang. Tidak adil!
Kasus seperti contoh yang barusan saya utarakan terjadi di beberapa teman yang lain. Bekerja seumur hidup ketika saatnya beristirahat dan menikmati hasil jerih payahnya, waktunya sangat pendek bahkan tidak ada lagi. Lalu untuk apa bersusah payah selama ini jika tidak dapat menikmati di kemudian hari? Saya terus terang merasa sedih, tapi begitulah hidup yang memang tidak adil.
Berkaca dan belajar dari berbagai pengalaman teman-teman yang pernah saya saksikan, mau tidak mau saya harus kembali kepada keyakinan untuk tetap being in the present. Kita tidak pernah tahu akan masa depan, sementara itu justru selama hidup kita berusaha untuk fokus pada masa depan. Lihat saja betapa kita rela menyisihkan sepenggal kehidupan sekarang untuk masa depan. "Nanti kalau sudah tua dan tinggal sendirian serta tidak lagi produktif mau makan apa?" Nah, saya yakin semua berpikir demikian. Investasi untuk masa depan menjadi tujuan kita saat ini, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga keluarga dan anak-anak. Saya dulu pernah hancur karena membeli 3 asuransi. Tujuan utama adalah "tabungan" untuk masa depan, "tabungan" untuk pendidikan anak dan lain sebagainya. sesudah 20 tahun berlalu, semua jerih payah saya ludes karena pihak asuransi salah berinvestasi dan dana yang sekian banyak saya masukkan tinggal tersisa 90 ribu rupiah yang tidak pernah saya ambil sebab polisnya saya sobek-sobek karena jengkel. Bayangkan berapa banyak dana yang saya tabung lalu menguap begitu saja. Jika mengingat 30% gaji saya dimasa muda saya sisihkan untuk tabungan itu, sakit hati saja tidak cukup! Itu contoh pengalaman saya, sejak itu saya memilih menabung dengan cara yang lebih aman walau tidak produktif.
Satu hal kemudian yang saya lakukan adalah kompromi. Bersiap untuk masa depan, tapi juga hidup maksimal pada saat ini. Hidup memang tidak adil, oleh sebab itu kita harus menyesuaikan diri. Kalau kita ngoyo dimasa muda dan fokus seluruhnya untuk masa depan, bisa saja ujung-ujungnya kita malah kecewa karena misalnya dulu menjauhi kopi demi menabung, ketika tabungan terkumpul tubuh renta sudah tidak mampu menikmati kopi. Sayang bukan?
Foto credit: theworkplacetherapist.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES198 Hari Magang Pertama
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin bercerita sedikit tentang hari pertama saya magang pada tanggal 12 Oktober kemarin. Setelah melewati proses yang cukup panjang dalam mencari tempat magang, akhirnya saya sampai juga pada satu tempat bernama Pustakaccita. Rasanya agak aneh ketika se…

AES 006 - Hujan kembali turun
Hujan kembali turun di penghujung tahun ini, membersamai di bulan Oktober yang sendu. Padahal sudah bergaung kekhawatiran soal sedahsyat apa kekeringan akan terjadi di tahun ini. Dari sejak awal tahun 2026, petani sudah berbicara tentang fenomena El Nino baru yang cukup ekstrem; saking mencekamnya,…
angga10
AES055 Mangga dan Bapak-Bapak
Hari ini ada pemandangan istimewa di area parkiran sekolah kita. Seorang bapak sedang memanjat pohon mangga golek yang terletak di dekat kantor. Tiga orang bapak yang lain sedang menunggu di bawah. 😄Sebelumnya, saat aku memutar mobil mencari tempat parkir yang kosong, dua orang bapak sedang berbag…
Mega52

