AtomicEssay

AES 166 Spiritual Journey

joefeluspenulis arsip2

Barusan saya membaca sebuah usulan definisi dari Circle of life: Nature's way of taking and giving back life to earth. It symbolizes the universe being sacred and divine. It represents the infinite nature of energy, meaning if something dies it gives new life to another.

Menghadapi situasi yang sulit akhir-akhir ini, saya berusaha melakukan rasionalisasi akan banyak hal yang saya rasakan dan pikirkan. Tidak mudah melakukannya karena terus terang semua ini sangat emosional. Tapi ketika membaca ungkapan di atas yang saya kutip. Saya melihat sesuatu yang esensial yang mungkin bisa saya pakai untuk proses rasionalisasi dari yang saya hadapi sekarang. Kutipan di atas diajukan oleh sesorang yang bernama Daid Wachsman untuk dimasukkan ke Collins Dictionary, masih pending hingga sekarang walaupun sudah diajukan sejak hampir 10 tahun yang lalu.

It represent the infinite of energy, ini sangat menarik. Jika seandainya itu benar bahwa seandainya manusia itu merupakan suatu bentuk energi kemudian pada suatu saat dilepaskan dan ditransformasikan pada yang lain atau bentuk energy yang lain, atau rupa yang lain, maka energy itu tidak pernah ada akhirnya, infinite. Ini sangat luar biasa!

Saya sangat bodoh dalam hal ini, pengetahuan saya boleh dibilang hampir tidak ada dalam masalah spiritual. Namun jika yang saya tangkap di atas itu benar, maka seharusnya hidup itu merupakan sebuah perayaan, kematian juga merupakan sebuah perayaan sebagai bentuk transformasi dari satu wujud ke wujud yang lain, bukannya hilang dan terhenti. Lalu kenapa saya takut akan akhir dari kehidupan? 

Yang pasti saya takut karena ketidaktahuan saya. Yang selama ini dipupuk hanya karena saya punya kepercayaan walau itu melalui segala bentuk pasang dan surut kadang subur kadang gersang. Namanya juga hal spiritual, tidak bisa dijelaskan secara nalar walau setiap orang berusaha merasionalisasi segala sesuatu namun ujungnya sering berakhir dengan bentuk keraguan.

Setiap orang selalu mencari pembuktian, dan selama ini belum ada bukti yang jelas dari seberang sana. Kalaupun ada yang mengaku, seringkali terdengar sangat absurd dan cenderung naif jika kemudian dipercaya begitu saja. Apakah karena ada keangkuhan sehingga sulit menerima sesuatu secara begitu sederhana? 

Mungkin harus dimengerti pula bahwa kemampuan manusia untuk mendeskripsikan sesuatu itu sangat terbatas, seperti saya ingin menceritakan keindahan dedaunan yang berubah warna saja harus pusing tujuh keliling karena kata-kata saja tidak mudah untuk menggambarkan itu semua. Nah apalagi menjelaskan keindahan sesuatu yang spiritual? Benda yang sudah jelas-jelas nyata dan bisa disentuh dan dipandang dengan mata saja sulit dijelaskan, apalagi hal yang abstrak. 

Ya ini adalah sebuah proses perjalanan yang tidak ada akhirnya. Mengejar sesuatu yang infinite membutuhkan perjalanan dan usaha yang infinite juga!***

Komentar (2)

Andy Sutioso

Aku yakin ini betul Jo. Einstein merumuskan Hukum Kekekalan Enerji sepertinya merujuk ke sini juga walaupun dia saintis tapi sangat spiritual pemikirannya.

yulitjahyadi

Beralih dari DOING ke BEING barangkali bisa jadi celah masuk untuk memahaminya Bang Jo

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1573 Finding God

Akhir-akhir ini saya sedang mengalami kesulitan dalam menulis. Bolong-bolongnya tidak kira-kira, dan arus ide juga mandeg serta keinginan mencurahkan pikiran juga sangat tersendat. Memang ada masa-masa seperti ini yang saya alami sejak saya mulai senang menulis setiap hari, tapi tidak seperti sekar…

joefelus20
AtomicEssay

AES 72 BAGAIMANA BENTUK TUHAN?

Apa yang kita ingat saat kita berusia 5 tahun? Pernahkah terpikir tentang bagaimana bentuk Tuhan? Kawan Saron, teman ajaibku di 2 tahun terakhir ini. Menemani mereka dari Sobat Dero yang usianya 4 tahun, hingga usia mereka saat ini. Ada yang berusia 5 tahun, ada juga yang baru merayakan usia 6 tahu…

yantisuryanii7193
AtomicEssay

AES935 Dialog Batin : Akar Perwujudan Kehidupan Manusia

John Dewey bilang, Pendidikan adalah Kehidupan itu Sendiri. Dalam konteks itulah, kita perlu berupaya memahami apa yang disebut dengan manusia seutuhnya dalam konteks kehidupannya yang sejati, tentunya dalam pemaknaannya yang paling fundamental. Manusia sejatinya adalah makhluk spiritual. Hal ini t…

Andy Sutioso10