AtomicEssay

AES 31 talas, ikan asin, dan papringan

vaniapenulis arsip2

Hari Selasa ini kami pergi mengunjungi Mbak Siska di rumahnya yang kurang lebih 30 menit jauhnya dari Dusun Ngadiprono. Rumah Mbak Siska terletak di Dusun Pongangan, di daerah yang cukup tinggi, di samping acara pernikahan dengan musik yang mendebarkan jantung.

Kami sampai di sana dan langsung disambut oleh beliau sendiri, ternyata ada juga Mas Pandji - teman lama Mbak Siska. Meski agak canggung awalnya, kami pun berkenalan dan mengobrol.

Ternyata, Mbak Siska dan Mas Pandji memang adalah beberapa tokoh kunci dalam terselenggaranya Pasar Papringan hingga saat ini. Ada juga Mbak Tini (kalau tidak salah) - yang sekarang adalah istri Mas Pandji.

Pasar Papringan awalnya terbentuk setelah ada semua konferensi mengenai pengembangan desa yang ada di Spedagi, Kandangan. Mbak Siska sendiri bertemu dengan Spedagi setelah menyelesaikannya S2 nya di Jepang dengan jurusan 'Design Culture' 

Mbak Siska sempat kuliah S1 juga di ITB dengan jurusan Desain Produk. Setelah itu, ditemani dengan Mas Pandji, istrinya, Mas Singgih, dan banyak tokoh lain - Papringan terbentuk.

Tahun pertama, Pasar Papringan digelar di Kandangan. Lalu berpindah tempat di bawah hutan bambu di Dusun Ngadiprono hingga saat ini. Dalam obrolan ini ternyata ada sebuah perspektif baru, yaitu mengenai kendala dan tantangan dalam memulai suatu gagasan menjadi bentuk nyatanya.

Mulai dari intrik antara warga, sopan santun yang harus dijaga karena masih banyak warga yang bersaudara, pemilihan makanan yang akan dijual, penentuan harga, struktur panitia dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu, peran orang luar atau mereka yang lebih netral sangatlah penting. Untuk menjadi medium penengah yang bisa melihat dari atas dan menjadi penyambung antara warga. 

Tentu banyak sekali perkembangan dan perubahan dari Pasar Papringan di awal hingga sekarang. Sistem, orang, alur, dan lainnya. Proses perjalanan yang genap 10 tahun ini telah membuatnya menjadi destinasi yang wajib dikunjungi wisatawan dari manapun.

Setelah mengobrol, kami berjalan ke kebun milik Mbak Siska yang katanya akan dijadikan tempat bermain anaknya yaitu Jo Maya. Kita belajar sedikit mengenai virus pada tanaman cabai oleh Mas Pandji, serta serangga putih di tanaman.

Kami balik ke rumah Mbak Siska dan makan bersama, kami juga bertemu dengan ibunya. Hidangan siang itu ialah ikan tongkol, daun singkong, ikan asin goreng, serta kerupuk. Rasanya enak sekali, apalagi setelah kami jalan di kebun yang cukup terik.

Selesai mencuci piring, kami diajak untuk pergi lagi menanam talas di kebun. Ternyata cukup jauh jalannya, melewati kebun di awal serta pohon beringin besar. Kami sampai, dan meletakkan kardus berisi bibit talas tersebut.

Aku dan Farzan mencoba menanam bibit talas tersebut di atas bedengan tanah. Mas Pandji juga ikut membantu, ada juga Pak Roto (yang bertugas menanam) memberi petunjuk untuk kita.

Ternyata air di bawah tanah di sana memiliki konsentrasi logam yang sangat parah, sehingga sangat susah untuk menanami tanaman apapun. Maka dari itu, bedengan dibuat jauh lebih tinggi dibanding biasanya, agar air nya tidak terkena langsung ke tanaman.

Selesai menanam beberapa bibit talas, kami mencuci kaki di selokan kecil yang airnya mengarah ke kolam di bawah pohon beringin. Kami jalan balik, dan beristirahat sebentar. 

Akhirnya, kami pulang ke rumah dan siap siap untuk masak hidangan malam itu.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 36 krasan

Hari Selasa, tidak banyak yang kami lakukan hari itu. Paginya, kami diskusi mengenai proyek riset kami selama di penjelajahan. Setelah makan siang tempe mendoan dan tumis sawi, kami berkenalan dengan kakak-kakak dari UMN. Kami lanjut dengan Pak Kabul dan istrinya di rumahnya. Pak Kabul adalah salah…

vania60
AtomicEssay

AES 33 ini dan itu

Selama kami di Dusun Ngadiprono, banyak sekali hal baru yang aku amati serta rasakan. Tulisan kali ini mungkin adalah hasil dari beberapa penggalan obrolan dengan warga. Contoh paling sederhana adalah dengan proses kehidupan masyarakat sehari-hari. Setiap pagi, kebanyakan dari mereka pergi ke sawah…

vania30
AtomicEssay

AES 32 bajingan 10/10

Kami memotong kulit pisang yang sudah terlalu matang di rumah salah satu warga. Kemarin, ada beberapa kegiatan yang kami lakukan bersama dengan warga dan Mas Yudhi - seorang kurator kuliner di Pasar Papringan. Pagi itu, kami sempat berdiskusi mengenai riset tentang kuliner dan aku telah menghubungi…

vania52