AES 33 ini dan itu

Selama kami di Dusun Ngadiprono, banyak sekali hal baru yang aku amati serta rasakan. Tulisan kali ini mungkin adalah hasil dari beberapa penggalan obrolan dengan warga.
Contoh paling sederhana adalah dengan proses kehidupan masyarakat sehari-hari. Setiap pagi, kebanyakan dari mereka pergi ke sawah dengan sepeda motornya.
Matahari terik, angin sepoi-sepoi, dan kadang sedikit sapaan dari sesama petani. Padahal kadang di hari yang terik itu, aku sudah merasa cukup kepanasan dan ingin beristirahat. Mereka dengan tekun dan semangat masih bertanya mengenai kabar kami.
Selesai siang, mereka akan makan di rumah, istirahat sebentar, lalu lanjut ke sawah. Setelah kurang lebih jam 4, mereka akan pulang. Hal ini dilakukan secara terus menerus.
Tapi dari obrolan yang aku dapat, mereka sangat senang dapat melakukannya setiap hari. Dengan ritme yang sama, meskipun hasil panen yang tidak bisa dipastikan.
Sungguh, sangat takjub aku pada mereka. Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, merekalah yang bekerja keras setiap hari di sawah. Dari sini aku juga semakin sadar bahwa proses bagaimana makanan yang kita santap setiap harinya memiliki ratusan tahap serta tangan yang berperan.
Contoh mudahnya, mungkin tentang padi. Mulai dari padi yang mereka tanam sendiri, sampai dikeringkan sendiri, lalu digiling, dan akhirnya bisa mereka makan atau dijual.
Karena memang, aku jarang melihat proses dibalik layar ini. Seringkali jika menikmati sesuatu, tidak terpikir bagaimana hal itu bisa sampai di hadapan kita.
Nah mungkin cerita kedua adalah tentang Bu Sanah yang tinggal sendiri bersama ibunya. Ia adalah salah satu warga yang paling ramah, mengajak kami minum teh dan duduk di rumahnya.
Ia membuat kecap yang akan digunakan di pasar nanti. Bu Sanah terlihat dengan senang hati melakukannya, kalau kata Mas Yudhi - untungnya pas pasan. Kecap ini juga sebenarnya untuk memenuhi makanan yang membutuhkan kecap. Tujuan utamanya bukan untuk dijual di pasar, tapi kalau ada sisa bisa dijual.
Baik sekali orangnya. Di sini aku melihat bahwa warga di Dusun Ngadiprono akan bahu-membahu membantu untuk terlaksananya pasar. Karena mungkin ini memang salah satu hal yang menjadi khas di desa.
Bisa jadi analisisku salah, tapi aku merasakan kehangatan dari setiap warga yang kutemui. Aku melihat keceriaan mereka lewat hal hal yang mereka lakukan. Keinginanan mereka untuk membantu satu sama lain.
Ada juga, bagaimana mereka selalu memperlakukan kami. Mungkin karena kami orang baru juga. Setiap kali kami mengetuk pintu, mereka pasti akan membuka dengan senyum lebar dan mempersilahkan kita untuk duduk.
Mereka akan menyuguhi teh dan makanan ringan, meskipun pasti kami menolak dan merasa tidak enak karena merepotkan. Soal bertamu dan bertemu ini juga aku jarang temui di kota.
Sebenarnya AES ini campur aduk sih, tapi ini beberapa cerita yang paling berkesan selama aku di sini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 36 krasan
Hari Selasa, tidak banyak yang kami lakukan hari itu. Paginya, kami diskusi mengenai proyek riset kami selama di penjelajahan. Setelah makan siang tempe mendoan dan tumis sawi, kami berkenalan dengan kakak-kakak dari UMN. Kami lanjut dengan Pak Kabul dan istrinya di rumahnya. Pak Kabul adalah salah…
vania60
AES 32 bajingan 10/10
Kami memotong kulit pisang yang sudah terlalu matang di rumah salah satu warga. Kemarin, ada beberapa kegiatan yang kami lakukan bersama dengan warga dan Mas Yudhi - seorang kurator kuliner di Pasar Papringan. Pagi itu, kami sempat berdiskusi mengenai riset tentang kuliner dan aku telah menghubungi…
vania52
AES 31 talas, ikan asin, dan papringan
Hari Selasa ini kami pergi mengunjungi Mbak Siska di rumahnya yang kurang lebih 30 menit jauhnya dari Dusun Ngadiprono. Rumah Mbak Siska terletak di Dusun Pongangan, di daerah yang cukup tinggi, di samping acara pernikahan dengan musik yang mendebarkan jantung. Kami sampai di sana dan langsung disa…
vania20