AtomicEssay

AES 7: The Channel Forty-Two is Now Playing on the Television. (Have a Seat and Watch!)

Ezarpenulis arsip2

Well, I suppose this is my final Atomic Essay for the semester. Ain't gonna lie, I'm quite disappointed that I still lack the motivation to express more of my thoughts, so my hope is that I could write more of Atomic Essays in the next semester. For this is the final Atomic Essay, I want it to be rather... personal. I'll try to use my native language to express my thoughts for this one essay, after all, this is special for me.

“...That there might not be a purpose to things, or to your life, or to your existence, or to the cosmos; that there might not be an order; that we're not here for a reason: That it's arbitrary and an accident.” (Eugene Thackard in “The Dust of This Planet”) adalah sebuah pernyataan yang bisa terbilang rada pesimistik dan nihilistik, tapi engkau tahu apa? Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Semuanya di dunia ini tidak memiliki arti sama sekali. Kita tidak juga bisa mengkalkulasi dengan presisi bagaimana jalannya dunia ini. Otak kita tidak bisa membuat hal tersebut menjadi komprehensif. Maka dari itu, saya yakin realita dari semua orang itu hanya sebatas level individual. Orang-orang bukanlah mencari untuk arti; mereka membuat arti. Sungguh absurd

Jika saya, seorang murid berumur 15 tahun, sudah memiliki dan memahami realita subjektif, apa yang harus saya lakukan? Jawabannya sangat sederhana; berbuat baik. Saya tahu ini jawaban bisa terbilang klise dan reduktif, seakan-akan ini adalah sebuah obat untuk metafisik dari ketidakberartian dengan skala yang besar, tetapi saya yakin hal ini memiliki suatu aspek yang penting. Jika semua di dunia ini fana, bukankah itu berarti semua yang kita lakukan juga tidak akan berarti? Toh semuanya akan mati. Untuk mengatasi metafisika dari keputusasaan-nihilisme, kita semua harus mengerti ini: Realita subjektif dan objektif akan selalu bertentangan, maka dari itu, kita hanya perlu fokus dalam membuat pilihan. 

Memahami realita dunia ini yang objektif hanya akan membuat diri kita menjadi lebih menderita. Realita itu tidak konsisten, dan itulah realitanya. Jika kita mendapatkan diri kita di sebuah realita dengan kondisi terbatas, maka di realita tersebut akan ada transfinite possibilitas. Jika empat kondisi kebenaran (seni, politik, cinta, dan sains) terjadi menurut Alain Badiou, maka kita bisa menemukan ide-ide yang memberikan hidup kita arti. Ide-ide ini tidak bisa dijawab dengan “benar” dan “salah”, kitalah yang harus mengambil tanggung jawab akan konsekuensi dari ide-ide tersebut.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 19: You Have Gyatt To Be Kidding With This DMCA Tax

Greetings, dear reader! Today, I want to bring you a seemingly unusual topic for me to talk about, but it's kind of all the gas nowadays. Dear reader, have you heard of Skibidi Toilet? That's right, today I want to talk about Skibidi Toilet, because I think there's an interesting aspect to it that…

Ezar10
AtomicEssay

A forward and apology

I'm writing this as I'm on my way to school in my automobile, and I gotta say, I feel ashamed. It's the worst kind of shame. I think these past few days have not been good for me, so me being late to school took a toll on me: It's genuinely painful to think that I could've disappointed some of my c…

Ezar31
AtomicEssay

AES 20: Dewibumi

Greetings, dear reader !! I'll be blunt with you folks once again, I'm keeping this one short, for real this time. A bit of tangent but the reason why I'm keeping this short is because I don't have my laptop with me currently for some technical issues regarding the device, and I'm not very used to…

Ezar10