AES 81 "HARUS" Selalu Menjadi Murid

Di sekolah ini, aku merasa selalu menjadi murid. Dan hari ini, ada kejadian yang membuatku teringat semasa aku benar-benar menjadi murid. Waktu itu kelas 3 SD, persis seperti saat ini aku menjadi kakak (sekaligus murid) di kelas 3 SD. Saat itu sebagai anak-anak yang mulai banyak bereksplorasi tentang nilai-nilai kehidupan yang abstrak, banyak dinamika dilalui. Belum lagi tinggal bersama kakek dan nenek, sedangkan orangtuaku hanya pulang sebulan sekali. Sehingga seringkali aku merasa sendiri.
Sampai suatu ketika, aku berselisih dengan teman di sekolahku saat itu. Sekolah pun tak lagi menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagiku. Ada saja teman yang mengganggu dan berbuat kurang menyenangkan. Untuk membentengi diri, bapak selalu membekaliku dengan wejangan, bahwa jangan berani-berani "nyalahi liyan" (sengaja memulai atau berbuat buruk pada orang lain). Tetapi beberapa teman terus saja dengan sengaja menggangguku di sekolah. Sehingga setiap bapak pulang, aku akan mengadukannya kepada bapak. Sebab aku tak tega jika nenek dan kakek harus mendengar bahwa cucunya mendapat perlakuan tak baik di sekolah. Maka kujaga rapat cerita ini hanya kepada bapak.
Saat perlakuan di sekolahku tak ditangani secara seadil-adilnya. Suaraku tak didengarkan oleh guru, tak dipahami esensi dan kebenarannya, bahkan cenderung menyudutkan karena kalah secara jumlah (dikeroyok), lagi-lagi aku merasa sendiri, maka bapak selalu datang sebagai yang bisa diandalkan.
"Berbuat baik pada mereka yang berbuat baik padamu itu hal biasa, tetapi untuk tetap baik pada siapa saja yang tidak baik kepadamu, itu baru luar biasa. Jadilah seperti itu!" ujar bapak setiap kali aku mengadu padanya tentang teman atau orang lain yang berlaku kurang baik padaku kala itu. Aku tenang, sebab ada bapak yang selalu ada untuk mendengarkanku dan mengenalku secara utuh. "Dan berdoalah (hal-hal baik) bagi mereka yang kurang baik atau membencimu!" lanjut bapak dengan senyum dan sorot mata yang berpendar serupa pelita yang hangat dan memberi arah pada rasa percayaku.
Setelah melihat dan menyelami pengelolaan konflik di Smipa, kusadari alangkah bersyukurnya anak-anak di sini. Mereka didengarkan sepenuhnya. Tak ada penghakiman, selalu dimediasi, dan yang pasti di sini "selalu ada kakak yang ada dan sedia untuk mereka". Di Smipa, kita tahu, ketika ada beberapa anak yang berselisih paham, maka kakak akan memfasilitasi penyelesaiannya secara adil. Sama-sama menjadi ada untuk keduanya, tidak menyudutkan salah satunya, bahkan meski sudah jelas salah satunya "bersalah". Kakak akan tetap mendengarkan sepenuh hati tanpa menghakimi. Membuat anak "tidak pernah merasa sendiri". Kakak juga selalu berdiri tegak untuk memastikan kebenaran dan memberi perlindungan pada kebenaran itu. Tentu ini hal yang tidak kudapatkan di sekolahku dahulu, juga pada teman-teman lain di luar sana.
Ternyata ini pelajaran yang bisa diambil hari ini.
Komentar (2)
Terbayang Mamat kecil saat itu, yang merasa sedih, hatinya menghangat setelah bicara dengan Bapak.
Terima kasih catatan reflektifnya kak Mamat.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 102 Berbagi Jalan
MengALAMI kembali pengALAMAN intens bersepeda di jalanan Bandung sebulan ini, gagasan utopisku tetiba muncul. Bahwa mungkin dengan naiknya tren bersepeda serta konsistennya kami, BaikSirkel dalam mengisi ruas-ruas jalanan kota dengan sepeda, akan TURUT MEMELANKAN RITME KOTA YANG RASANYA SEMAKIN TER…

AES 101 Kembali ke Akar?
Frasa "Kembali ke Akar" akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk diuji dan dicerna di lambung pikir dan rasa. Pada sebuah hari yang santai, karena memang begitu hari-hariku kini, tetiba panggilan suara berkunjung ke gawaiku atas nama Bayu Mango. Dari balik telepon itu tertangkap sehelai pe…

AES 100 Sampai
Sampailah kita pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa, mengantarkan Kawan Marwas ke depan pintu gerbang petualangan dan jenjang baru, kelas 4. Tak lupa juga jenjang lain yang pernah bertualang bersama dan berbagi kegembiraan. Bersamaan dengan ini, berakhir pula masa bakti saya sebagai te…
