AES 87 Detak, Merapi, Seismograf, dan Mandala

Rumput kian mengering daun kan menguning
Kau tahu menurutku waktu adalah
Kutukan ancaman bualan Dan satu per satu orang sekitarku
Mulai ditinggalkan oh ini peringatan Untukku o Tuan wahai Kematian
Ku tak bisa melawan jamah perhentian
Berjanji kuikhlaskan dengan rela
Namun jangan hari ini .... Kurelakan o Tuan
Kurelakan namun jangan hari ini ____________ *_____________ Di atas adalah lirik lagu yang beberapa bulan ini begitu sering diputar di kepala, mulut, lamunan, pengeras suara, gawai, dan gumamanku. Temanya jelas, kematian. Hal yang sensitif dan cukup tabu untuk dibicarakan dalam ruang-ruang santai dan keseharian. Tetapi entah bagaimana menjadi begitu akrab bagiku. Sangat singkat cerita: Jumat sore yang biasa saja, semua hal berjalan seperti yang sudah-sudah. Matahari masih merangkak turun di sisi barat, dan angin berangsur memelan ditelan suasana pembuka akhir pekan. Hingga tetiba sebuah kalimat hampir seketika mengakhiri sebuah obrolan, "Aku sudah tidak takut mati." Bukan serta-merta dan semendadak kantuk yang mengepung mata usai makan siang, sekali lagi ini adalah (hampir) ujung dari sebuah obrolan. Kuucapkan pada teman di ruang tengah karena memang hal ini sudah kupercaya dan kuimani selama ini. Tetapi getaran selalu berbicara di luar bahasa.
Setelah Jumat tamat, terbitlah hari Sabtu. Ia berjalan begitu saja, meski nggak gitu-gitu aja juga. Intinya ragaku sudah berpindah di lereng Eyang Merapi yang masih asyik mengepulkan asapnya sayup-sayup hingga lenyap bersama cahaya terakhir senja itu. Melintasi jeda semalam, sampailah aku terduduk di suatu tempat makan, menghadap tepat lurus pada Eyang Merapi. Seperti biasa, waktu menunggu kuisi dengan termangu dan bermandala. 100% yakin aku akan membuat mandala. Tetapi kata seorang guru, kita (manusia) adalah kemungkinan murni. Benar adanya, hal sederhana yang mungkin menjadi tidak mungkin. Pagi itu, di bawah guyuran cahaya mentari yang sama yang memberi kekuatan pada sayap kupu-kupu untuk terbang menggapai bunga-bunga, aku terpaku. Buku sudah terbuka, pena siap digenggam, tarikan napas baru saja kembali dilepaskan, tetapi tak ada gerakan apapun pada jemariku. Tak satupun goresan menjejak pada kertas yang siap menerima setiap jejak.
Detak jantung menggaung, suara alam teredam. Tanpa terjelaskan, aku tidak bisa membuat mandala. Aku tidak membuat mandala, pagi itu. Ini yang tergores.
"Bukan lagi takut mati, tetapi juga tak takut ditinggal mati."
Sampailah pada pagi ini 8 Oktober, akhirnya baru kusadar bahwa itu bukanlah gambar pada mesin EKG. Bukan hasil rekam aktivitas listrik jantung yang kutorehkan secara spontan hari itu. Kutahu kemudian saat kubuka buku Denyut Nadi Bumi yang hendak kupinjamkan pada Kak Bayu dan teman-teman KPB.
Gagap tubuhku ketika membuka dan melihat halaman di atas, gambar rekam seismograf di Gunung Merapi tahun 1930. Ternyata detak Eyang Merapi yang kujejakkan di kertas yang biasanya dan semestinya berisi mandala. Ah, ini perasaan yang tak terjelaskan, misterius. Seperti ujar seorang guru, seringkali hal-hal yang terlalu banyak terbuka (diketahui) ialah awal dari kehancuran, jadi mari merayakan misteri. Seperti kematian, misteri, tiada yang tahu, tapi pasti.Komentar (2)
Aaaaah! Tulisan yang aku tunggu, kak. Pengalaman yang menyentuh sekali!
Serunya kalau kita bisa memandang dan menjalani kehidupan sebagai misteri yang tidak berkesudahan. Tidak ada ekspektasi, tidak ada target, yang ada adalah eksplorasi diri ke luar dan ke dalam - bersandar pada kesadaran arus semesta dan keberserahan pada Sang Kuasa.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES68 Tunas Harapan: Kisah Tanaman yang Merayakan Kehidupan
Apa yang Anda lihat dari foto di atas? #1 Ketika Harapan Seperti Layu Tanaman itu adalah Lee Kwan Yew (Li Kuan Yu/ Li Kuan Yi), tanaman yang ada di beranda di depan kelas di Semi Palar. Foto di atas adalah foto Lee Kwan Yew yang berada di depan kelas SD-5. Beberapa bulan ke belakang memang kondisin…

AAS557 Melebur ke Sungai Cikahuripan
Cikahuripan, air kehidupan... itu nama sungai yang aliran airnya kami susuri saat kami beberapa warga Smipa mencoba Niis ke Gambung. Mendengar nama itu disebut pa Anwar saya tertegun sejenak, menyadari bahwa perjalanan kami ke Gambung dan ke hutan di dekat tempat kami menginap sejalan dengan apa ya…

AES453 Kolaborasi
Kemarin saat hendak ke luar rumah, perhatian saya tertuju ke sesuatu yang bergerak perlahan di dinding rumah. Setelah dilihat dari dekat, ada segerombolan semut yang sedang memindahkan bangkai capung ke sarangnya. Yang cukup luar biasa, semut-semut itu sedang bergerak vertikal menaiki dinding garas…


