AtomicEssay

AES0005 Bingung Judulnya Apa

Gilangfhjpenulis arsip2

Dari semua pengalaman, persepsi, atau bahkan dogma, sehingga terbentuklah kondisi kejiwaan yang terus-menerus memikirkan kemungkinan di depan yang bisa terjadi--mungkin banyaknya yang buruk yang sering terlintas, merencakanan pencegahan, antisipasi, atau solusi, diracik bersamaan dengan harapan idealistik dan perfeksionis. Dirangkum menjadi bahasa lebih sederhana, yaitu cemas hehehe. Ya emosi itu sedang aku rasakan, terutama dan hampir setiap akan "berangkat" menunaikan tugas. Tugas yang bersinggungan dengan pelayanan dengan orang. Entah kenapa meski aku mungkin menyukainya tapi rasanya "hayang ceurik" ketika akan memulainya. Seakan-akan aku tidak akan bisa memberikan yang terbaik dan menerima kelegaan dan kepuasan dari klien. 

Hingga saat aku berkendara di jalan, 100 meter sebelum sampai, bahkan sampai di depan "pintu" nya rasanya sungguh tidak enak, pundak-ku terasa tertarik ke bawah, napasku mengumpul di dada, tanganku berkeringat, lutut "asa hampos". Namun bersyukur di jalan tadi, sempat lewat suara guru virtual dari podcast di youtube, membahas mengenai, "finding freedom", kata-kata yang masuk ke telingaku saat itu adalah, "Kita itu ketidakterbatasan yang dibatasi, dibatasi kemelekatan". Untungnya, nasihat guru itu sempat aku kantongi dan aku bawa ke ruang kerjaku. 

Singkat cerita selesai lah pertemuanku dengan klien di pagi itu. Aku pulang dengan kondisi yang berbanding terbalik dengan sebelumnya hehehe. Loh malah seperti terbalik ya? Bukan monopoliku dalam perihal memberikan kelegaan ternyata, bahkan prosesku dengan klien tadi sangat memberikan aku kelegaan dan kebahagiaan hati. Saat proses tadi, kami sama-sama kehilangan ingatan mengenai ide-ide capaian kami, dengan niat yang baik dari keduanya, kami hanya menikmati prosesnya yang "magical", khusyu, dan menghangatkan hati, thanks god.

Menurutku, pada akhirnya tiada sisi yang hanya satu arah, penolong atau tertolong, yang terjadi selalu tolong menolong, dua arah yang selalu menjalin saling .

Di jalan pulang, guru virtualku kembali menyala di penyuara mobilku. Sampai lah aku pada penggalan pembicaraan Nya, "Garis hubungan antara manusia itu bentuknya koordinasi, bukan komando searah, berkolaborasi dua arah, sejajar-pajajaran, silih asih asah asuh, tinggalkan kebiasaan mengecilkan potensi yang sama-sama besar itu. Kita itu merupakaan ciptaan yang diciptakan menjadi penengah, diam di posisi netral, agar dapat menjalankan (memimpin) kehidupan yang selalu berlaku seimbang--- terkandung positif dan negatif".

Aku bersyukur sudah mau menghadapi ketakutanku, menemani diriku memaknai suatu lagi dan terus, aamiin. 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES0014 Mencari Tangan Yang Terbuka

Nampaknya hidup, bak intan yang lahir dari dari perut bumi, berkawan dengan tempaan penguat diri. Kita memang tidak bisa mengharap kebaikan selalu menyertai, karena begitu kita bisa melahirkan diri. Tempaan akan merefleksikan yang sudah kita miliki, apakah masih valid atau perlu disesuaikan lagi, u…

Gilangfhj11
AtomicEssay

AES0013 Hadir Pak/Bu Guru!

"Bah, kayanya aku ngga perlu abah terlalu kaya raya (sambil hampir menangis ternyata aku kangen padahal cuman satu hari dia tidak mengobrol denganku)". Saat itu abah baru saja pulang dan kemudian duduk santai di meja makan dengan sepiring makanan di depannya. Entah, apakah ada yang sama atau tidak.…

Gilangfhj50
AtomicEssay

AES0012 Ngga didobrak, cuman ketuk pintu

Kalo ada suaranya, meren perbuatanNya teh bunyinya sebatas "tuk,tuk,tuk", cuman ngetuk, tapi rasanya diterjemahkan dramatis olehku. Sampai kapanpun, diriku, pasanganku, anaku tidak akan pernah bisa dikerdilkan menjadi miliku, yang kosmos kecil ini. Mereka pasti akan selalu merindu semesta besarnya.…

Gilangfhj21