AES001 Persoalan Aku, Lumut dan Waktu

Suatu sore saat aku mengikuti kelas Bivitri Susanti seorang yang ku kagumi jika itu menyangkut hukum. Perempuan. Aktivis. Ahli Tata Negara. Keren sekali.
Aku ditugaskan menuliskan policy brief tentang MBG, disana ada pertanyaan mengusik dari teman kelompokku, "Buat apa sih toh ga akan diterima". Jika terblow up media juga taruhannya nyawa. Ah ya, Ini kejauhan memang, mengingat kualitas tulisanku dan siapa aku.
Tapi, intinya untuk policy brief diterima saja susah sekali. Gimana mau berubah? Namun seperti kata Mba Bibip (Bivitri), dalam dunia kebijakan, policy brief bukan tentang "diterima hari ini", melainkan tentang membangun literatur tandingan. Suatu saat, ketika sistem berubah, tulisanku bisa menjadi fondasi. Siapa tahu.
Menjadi benar itu berat. Mba Bibip (Bivitri) bilang perlindungannya mesti berlapis jika kita perempuan. Mulai dari perlindungan oleh komunitas hingga kemampuan pertahanan diri. Lebih enak jadi orang masa bodoh atau bahkan bodoh betulan.
Aku ikut Bandung Bergerak, disana aku ditugaskan membuat project yang tidak boleh berurusan dengan pemerintah padahal akar permasalahannya itu pemerintah. Pusing kan?
Aku dan kawanku riset tentang kampung Lio Genteng dan Astana Anyar dibawah mentor dan juga sejarawan. Rasanya? Sulit sekali. Kenapa sih semuanya sulit? Tapi aku tahu menuliskan sejarah kampung yang terpinggirkan adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap penghapusan ruang oleh kekuasaan.
Hingga aku kembali ke hal yang aku suka. Lumut. Tumbuhan paling primitif yang bisa menghancurkan batu. Lumut itu tumbuhan paling sederhana dan kecil tapi luar biasa tangguh. Jika ia kering selama setahun penuh, cukup terkena air lima menit ia bisa kembali hidup. Keren kan?
Seperti kelasku dengan Mba Bibip dan Kawan Bandung Bergerak tidak ada satupun yang targetnya itu memperbaiki sistem dalam semalam. Semua yang aku lakukan disana sederhana. Menulis dan mengabadikan. Seperti lumut, dibanding frustasi dan pesimis, kenapa tidak melakukan hal kecil saja? Toh di masa depan kita tak akan pernah tahu hal kecil itu menjadi apa.
Semangat perang Diponegoro butuh 100 tahun lebih agar Indonesia betulan merdeka. Sekarang aku yakin, tidak ada kebaikan dan perjuangan yang sia-sia. Sama seperti lumut yang kelak akan menghancurkan batu, semua hanya persoalan waktu.
Komentar (2)
Menarik Sonya catatannya. Saya sepakat... Tidak ada yang sia-sia. Alam semesta adalah Enerji semata. Pikiran kita saja berdampak apalagi tulisan yang kita tinggalkan
Keren, Kak! Menyalakan alarm dan menolak narasi tunggal yang sering "segera" dianggap kebenaran saat tiada perlawanan (sekecil apapun itu).
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES001 Benarkah... Kita Jadi Gak Sabaran dan Jahat karena Kapitalisme??
Kalau dipikir-pikir, ada masa di mana hidup kita sebagai manusia belum disetir total oleh logika kapitalisme. Dulu, masyarakat praindustri kalau bikin kerajinan, masak, bertani, atau bangun rumah dilakukan sebagai bagian dari keseharian aja. Pekerjaan belum sepenuhnya dipisahkan dari keseharian man…
Vhania22
AES001 Memulai
Aku sempat bingung, harus menulis apa di sini. Apakah semua tulisan harus terasa positif, atau boleh juga menuliskan hal-hal yang belum selesai di dalam diri? Karena tidak setiap waktu kita bisa berpikir dengan jernih, aku sempat berputar-putar cukup lama, mencari-cari apa yang akan aku tulis untuk…
Nawwa30
AES001 Belajar Mengenali, Bukan Dikuasai
Takut dan cemas adalah dua perasaan yang sama-sama tidak nyaman untuk dirasakan. Ketika keduanya muncul bersamaan dalam diriku, sering kali apa yang sudah aku rencanakan jadi gagal, karena aku sudah lebih dulu diliputi oleh perasaan itu. Makna takut dan cemas memang tidak jauh berbeda. Keduanya sal…

