AES0011 Teu Nanaon

Belakangan ini aku mencermati perasaanku saat kondisiku sedang baik bahkan sangat baik. Aku menemukan bahwa perasaanku sangat senang dan nyaman. Tapi ketika malam datang, saat semua sunyi, aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa perasaanku bisa baik saat ini? Mengapa tidak terjadi juga saat kondisiku tidak baik-baik saja. Batinku malu, betapa remehnya aku.
Karena pergolakan malam itu, hari-hari berikutnya menjadi kembali sendu di tengah kondisiku yang sangat baik secara materil/fisik. Ternyata batinku masih terus mencari jawab. Hingga pagi ini aku bertemu dengan sepenggal kebijaksanaan seorang penulis. Dia menyaksikan, "Tapi tanpa kerapuhan itu, keterbukaan yang ikhlas terhadap transformasi, kehidupan takkan tumbuh".
Hatiku lega karenanya, belajar menjadi sejati (paka) sungguh perjalanan yang naik dan turun, lupa dan ingat, untung (ala orang sunda) masih ada orang-orang seperti penulis itu yang mau berbagi kekuatan batin untuk manusia, yang penting untuk menggulirkan kesadaran, mengobati jiwa yang luka karena tidak mengerti rasa kerinduan pada kesejatian.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES0014 Mencari Tangan Yang Terbuka
Nampaknya hidup, bak intan yang lahir dari dari perut bumi, berkawan dengan tempaan penguat diri. Kita memang tidak bisa mengharap kebaikan selalu menyertai, karena begitu kita bisa melahirkan diri. Tempaan akan merefleksikan yang sudah kita miliki, apakah masih valid atau perlu disesuaikan lagi, u…

AES0013 Hadir Pak/Bu Guru!
"Bah, kayanya aku ngga perlu abah terlalu kaya raya (sambil hampir menangis ternyata aku kangen padahal cuman satu hari dia tidak mengobrol denganku)". Saat itu abah baru saja pulang dan kemudian duduk santai di meja makan dengan sepiring makanan di depannya. Entah, apakah ada yang sama atau tidak.…

AES0012 Ngga didobrak, cuman ketuk pintu
Kalo ada suaranya, meren perbuatanNya teh bunyinya sebatas "tuk,tuk,tuk", cuman ngetuk, tapi rasanya diterjemahkan dramatis olehku. Sampai kapanpun, diriku, pasanganku, anaku tidak akan pernah bisa dikerdilkan menjadi miliku, yang kosmos kecil ini. Mereka pasti akan selalu merindu semesta besarnya.…
