AtomicEssay

AES002 Apa yang Kita Bicarakan ketika Kita Berbicara tentang Kenangan

adhmsmpenulis arsip2

“All this, all of this love we're talking about, it would just be a memory. Maybe not even a memory. Am I wrong?” (Raymond Carver)

 

Semua hal yang terjadi di sekeliling kita hari ini, mau-tidak mau, suka-tidak suka, akhirnya akan terlewati. Semua itu terekam dan tertinggal di dalam kepala sebagai kenangan, setidaknya sampai kita masih bisa menarik-mengembuskan napas. Berbeda dengan ingatan yang merupakan bayangan sekelebatan, kenangan merupakan sebuah ingatan yang begitu membekas di dalam kepala.

Selama menjalani hari demi hari, kenangan sebenarnya memiliki andil yang jauh lebih besar dari yang bisa disadari. Dalam hal ini, kenangan merupakan salah satu alasan bagi seseorang untuk mempertimbangkan tindakan-tindakan pada hari ini, pada saat ini. Selain itu, hadirnya kenangan juga sebenarnya berada di luar kuasa seseorang. Dalam beberapa kasus, kenangan bisa menyedot seseorang untuk terjebak di dalamnya. 

Sama halnya seperti lebaran yang baru saja dilewati belakangan. Beberapa orang, khususnya yang beragama Islam, merasa bahwa lebaran sudah tidak lagi terasa seperti Lebaran yang pernah ia lewati sebelumnya. Dengan kata lain, sebenarnya mereka sedang terjebak di dalam kenangannya sendiri akan Lebaran. Hal-hal yang bisa dan biasa membuat seseorang bahagia ketika Lebaran tiba, pada saat ini tidak bisa lagi dirasakannya.

Misalnya, ketika Lebaran tiba, biasanya seseorang bermain bersama sepupu, mendapat THR dari paman dan bibi, mendapat baju baru, dan lain sebagainya. Sejauh apa pun ia merekonstruksi hal-hal tersebut pada hari ini, terkadang kebahagiaannya tidak akan pernah lagi sama.

Bukan hanya dirasakan oleh kaum muslim yang merayakan Lebaran, semua orang dari berbagai kalangan pun bisa merasakan hal yang sama, baik ketika Natal, Imlek, Paskah, Nyepi, hingga perayaan-perayaan besar lain. Ketika perayaan-perayaan besar, pasti tersimpan satu atau beberapa kenangan yang berkesan di kepala masing-masing orang.

Selain itu, secara kolektif, kita telah melewati banyak hal yang memengaruhi keseharian kita. Misalnya, kepemimpinan politik yang silih berganti, perkembangan teknologi yang semakin mudah dan murah untuk dijangkau, hingga hal besar terakhir adalah datangnya pandemi virus yang harus mengorbankan banyak jiwa. Jika dibandingkan antara hari ini dengan masa lalu, secara fisik serta segala yang non fisik, semuanya sudah jauh berubah.

Apakah seharusnya seseorang terjebak di dalam kenangannya sendiri sambil menyesali semua hal yang pernah dialaminya? Satu-satunya yang bisa dilakukan terhadap kenangan adalah memaknai, memaknai segala hal yang pernah terjadi. Sementara pilihan makna, baik atau buruknya, tergantung dari seseorang itu sendiri. Hal yang pasti adalah seseorang hidup pada hari ini dan akan menghadapi masa depan.

Semua orang, tak terkecuali bagi anak-anak atau orang dewasa, saat ini sedang menabung kenangan yang akan diputar kembali pada masa depan. Maka dari itu, sepatutnya kita meninggalkan segala hal yang paling baik untuk diputar di kepala sendiri maupun orang lain. Setelahnya, kita juga bisa memaknai kenangan dengan menyadari bahwa kita akan menghadapi hari esok.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

Terima dan Kasih

Dua tahun barangkali bukanlah waktu yang panjang, sekaligus bukanlah waktu yang sebentar. Dua tahun ini saya merasa penuh dengan berbagai perasaan, sampai-sampai saya tak lagi sempat untuk benar-benar memahaminya satu demi satu. Meski ada momen-momen saya diliputi kecemasan, kegagalan, kekalahan, a…

adhmsm182
AtomicEssay

Dua Puisi Selametan TP-21

Mekarlah, Mekar bersama-sama, kita menghadap sama rendah dengan penuh kerendahan sukma, berlindung di bawah mendung yang masih canggung. pada satu lembah, pada satu lembar hari yang berulang, kita coba menerka, apa arti pulang, jika kita tak lagi bisa memaknai hangat rumah yang membesarkan kita. se…

adhmsm52