AES002 - Taat aturan?

Lovendriapenulis arsip2

Pernah jalan-jalan ke jalan Gunung Batu di pagi atau sore hari? Tepatnya setelah lampu merah pasteur, kita ke arah jalan Gunung Batu, di sana ada simpang tiga ke arah Lanud dan dilanjut simpang tiga ke kolong jalan tol. Di sinilah titik macet yang paling parah. Motor menyemut, dan mobil kuat-kuatan. Sepertinya semua berburu waktu untuk sampai tujuan, mengalah itu jika hanya kalah, mencoba untuk tetap berjalan agar keluar dari keruwetan.

Hari itu sepulang mengantar dari sekolah, kendaraan cukup padat. Setelah melewati simpang lanud, banyak mobil yang hendak menyeberang masuk ke kolong jembatan, ditambah dari arah sebaliknya banyak mobil yang hendak ke lanud, membuat kemacetan semakin menjadi-jadi. Andai aja dua persimpangan ini bisa dijadikan simpang empat dan dipasang lampu lalu lintas, apakah mungkin lebih lancar?

Lupakan dulu perandaian di atas, kembali ke realita. Saya terjebak di tengah-tengah kemacetan. Saya tidak berani mengambil jalan paling pinggir walau saya memakai motor. Sengaja agak di tengah, saya tidak mau berkendara di trotoar, walaupun trotoarnya kosong. Sengaja agak di tengah, agar saya tidak menghalangi motor yang mau ke sana. Banyak motor yang berhasil masuk ke kemacetan ini dan keluar melalui trotoar. Jika saja saya berhenti di pinggir, menghalangi jalan ke trotoar, pasti kemacetan makin menjadi-jadi. Andai saja mereka tidak keluar dari kemacetan, pasti kendaraan makin menumpuk di antara dua simpang tiga ini.

Pikiran saya, andai motor ga naik trotoar. Pasti keadaan di sana seperti malam tahun baru, klakson tanpa terompet dimana-mana. Kendaraan menumpuk di tengah. Tapi andai kita semua taat aturan, pasti ga ada macet. Tapi satu lagi, dimana aturan di dua simpang ini? 

Pernah saya berdiskusi dengan istri, yang mau belok ke kolong jembatan, hendaknya berputarlah melewati ruko. Atau ditambah jalur kuning, kendaraan dilarang masuk jika di depannya belum lewat. Entah siapa lagi yang pernah berdiskusi tentang masalah ini?

Syukurnya saya melewati jalan ini sepulang mengantar anak. Menikmati kemacetan tanpa harus berburu waktu. Bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Terkadang tersenyum dalam hati jika sekali-kali melihat Gunung Batu ini sepi.

Komentar (2)

Andy Sutioso

Wah, tulisan yang menarik. Saya sempat menulis kisah yang serupa. https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/1691/aes156-macet Ya inilah salah satu tujuan dari AES. Mencatatkan narasi dari pengalaman kehidupan sesederhana menghadapi kemacetan. Terima kasih sudah berbagi.

Lovendria

Terima kasih Kak. Kadang setelah ditulis, ada yang ide yang berbeda. Karena ada dapat gambaran yang lebih nyata. Benar juga, kalau kita dalam kemacetan, kita adalah bagiannya juga.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 012 - Mereka itu awalnya Kita

Hari Rabu kemarin, karena sedang libur mengajar coding, saya sempat menemani anak-anak, melihat mereka belajar parkour di Taman Film. Banyak sekali anak-anak bermain dan berlari di sana. Senang rasanya melihat energi mereka. Tapi, di balik keriuhan itu, ada hal yang membuat saya geram: sampah makan…

Lovendria42

AES 011 - Kampuang

Hari itu, temanku bertanya, "Pen, lu tahu martabak mesir yang enak di Bandung?" "Setahu gua, di sini biasa saja," jawabku. "Gua pernah pergi ke kampung lu. Di sana martabak digoreng dengan mentega. Ditambah kuah yang segar dan dagingnya yang besar-besar." "Iya, benar. Di sini semuanya digoreng pake…

Lovendria20

AES010 - Mendengarkan

Hari itu saya datang terlambat ke gor untuk bermain badminton. Tidak berapa lama, saya sudah mendapat giliran bermain. Kelompok kami telah bermain bersama cukup lama, jadi saya sudah cukup mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing teman di sini. Hari ini jumlah pemain yang datang pas-pasan, s…

Lovendria50