AES010 - Mendengarkan

Hari itu saya datang terlambat ke gor untuk bermain badminton. Tidak berapa lama, saya sudah mendapat giliran bermain. Kelompok kami telah bermain bersama cukup lama, jadi saya sudah cukup mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing teman di sini.
Hari ini jumlah pemain yang datang pas-pasan, sehingga yang sebelumnya sudah bermain harus ikut lagi. Hanya ada pergantian satu orang, dan saya yang masuk sementara satu orang lainnya istirahat. Masalahnya, pemain ini kuat-kuat. Saya kurang menikmati bermain dengan pemain yang kuat karena saya lebih suka bercanda di lapangan daripada bermain serius.
Akhirnya saya memilih berpasang sama teman yang berprofesi sebagai pelatih. Cewe sih, tapi kuat banget. Lawan kami dua cowo yang termasuk paling kuat di klub kami. Asyiknya, pelatih ini jika memberi nasehat, dia selalu tenang dan lembut. Ketika saya memberi bola tinggi, dia dengan santai berkata : "tenang ya Ko". Karena dua lawan kami akan membalas dengan serangan tipu. Saya diharapkan tidak terlalu lincah di lapang, agar posisi kaki tidak terkunci jika bola tipunya berlawan arah dengan arah gerak saya. Apalagi jika tiba-tiba serangan tajam muncul, jadi saya sudah siap sedia.
Poin kami tertinggal jauh. Game awal ditutup dengan 9-15 untuk kemenangan tim lawan. Set kedua dimulai, saya sudah percaya diri. Dan minta poin tetap dilanjut, jadi kami harus mengejar sampai 30 untuk memenangkan pertandingan.
Di awal set pertama, saya sering mengabaikan nasehat pelatih. Saya percaya pukulan saya akan memberikan poin. Namun pukulan saya dengan gampang dipatahkan, dan berujung poin untuk lawan. Berkali-kali saya dinasehati oleh teman saya ini. Berkali-kali itu pula saya menolaknya. Saya angkuh, selalu merasa lebih. Akhirnya saya lelah dengan kebodohan sendiri.
Di akhir set pertama, saya mulai mendengarkan nasehat pelatih. Saya mencoba mencerna apa yang dikatakan. Benar saja, satu per satu poin dikumpulkan. Ketika pukulan saya membaik, partner saya ini mulai menambahkan variasi yang berbeda lagi. Dan benar lagi, poin kembali bertambah.
Bisa ditebak, kami berhasil memenangkan permainan ini dengan skor yang tipis, 30-28. Andai saya mau mendengarkan nasehat dari awal, bakal lebih banyak variasi yang diajarkan.
Saya sangat jarang sekali melihat lawan yang satu ini kelelahan seperti pertandingan tadi. Seperti bingung membangun serangan. Semua pukulan dia jadi terbaca oleh partner saya. Begitu hebatnya partner saya ini, bisa membaca situasi di lapangan.
Dari dulu, saya susah mendengarkan nasehat jika saya merasa sudah mampu. Di pikiran saya, ini sudah optimal. Namun ternyata ada cara lain yang bisa dilihat oleh orang lain. Belajar dari orang yang terlatih memang menyenangkan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES951 Siap Bersekolah
Pagi ini di ruang tempat kami berdiskusi - berkoordinasi, terdegar suara tangisan seorang anak. Hari Selasa ini kami baru memasuki hari ke lima bersekolah, di TP ke 22 ini. Mengamati sebentar, sepertinya ini terjadi karena kenyamanan teman baru ini di rumah barunya. Murid di TK-A yang masih perlu w…

AES 72 BAGAIMANA BENTUK TUHAN?
Apa yang kita ingat saat kita berusia 5 tahun? Pernahkah terpikir tentang bagaimana bentuk Tuhan? Kawan Saron, teman ajaibku di 2 tahun terakhir ini. Menemani mereka dari Sobat Dero yang usianya 4 tahun, hingga usia mereka saat ini. Ada yang berusia 5 tahun, ada juga yang baru merayakan usia 6 tahu…

AES01 - Langkah Pertama
Berawal dari pengalaman yang akan terus terngiang dan jadi pelajaran berharga, peristiwa "spidol hijau yang jatuh" saat kegiatan membuatku jadi tersadarkan, tidak semua hal yang menjadi masalah harus langsung kamu selesaikan, tapi kamu perlu waktu untuk diam lalu amati dan perhatikan dari segala as…



