AtomicEssay

AES003 Kompetisi

daniasundaripenulis arsip2

Pas banget baru aja Hari Pendidikan Nasional. Sudah tahun 2026, tapi pendidikan di Indonesia selalu menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan. Indonesia sendiri sebenarnya terus mengevaluasi pendidikan yang berjalan dan melakukan berbagai penyesuaian. Akibatnya, ketika menteri berganti, kurikulum pun ikut berubah. Pendidik dan sekolah dituntut untuk selalu siap mengikuti perubahan tersebut.

Sayangnya, tidak semua penyesuaian berlandaskan pada kesiapan pendidik dan kebutuhan setiap sekolah. Hal ini berdampak pada cara pandang para pendidik, seperti "ah, gak usah dipelajari, nanti juga berganti lagi" atau pun "pusing ah, pemerintah ribet." Kenyataan yang cukup pahit, bukan?

Baru-baru ini, saya melihat sebuah postingan dari akun @gurudigital yang membahas teknologi yang dibagikan pemerintah ke sekolah-sekolah. Tentu tau dong, TV dengan layar besar yang akan membuat anak-anak takjub. Namun, muncul pertanyaan: Apa yang menjadi bahan pertimbangan pemerintah ketika membagikan teknologi ini ke setiap sekolah?

Sekolah tertentu mungkin akan merasa terbantu dan senang, karena fasilitas sekolah jadi semakin memadai. Tapi bagaimana dengan sekolah yang secara lingkungan belum siap? Bahkan dalam praktiknya, teknologi ini sering kali belum dimanfaatkan secara  optimal. Hanya mengubah fungsi papan tulis berpindah saja ke layar. Lalu buat apa kita mengeluarkan biaya besar, jika belum menjawab kebutuhan?

Kembali lagi pada kesiapan pendidikan di Indonesia. Ini seperti penyesuaian yang tidak benar-benar menyesuaikan. Di tengah berbagai perubahan, ada pendidik yang belum siap dengan pemanfaatan teknologi maupun pengelolaan pembelajaran. Di sisin lain, ada pula sekolah yang secara kondisi fisik saja belum mumpuni.

Alhasil kebijakan ini pun belum menyesuaikan. Sering kali perubahan ini belum menyentuh akar masalah. Pendidik masih banyak yang menerapkan metode ceramah, catatan, dan hafalan. Sementara itu, pembaruan lebih banyak terlihat dari sisi luar.

Pada akhirnya, pendidikan kita masih sibuk mengejar hasil (kompetisi), tanpa benar-benar memastikan kesiapan proses (guru, sistem, dan lingkungan).

Lalu aku pun bertanya-tanya, jadi pendidikan itu sebenarnya untuk siapa sih?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES004 Ketika Prestasi Menjadi Validasi

"Selamat ya, Nak. Terima kasih untuk proses yang sudah kamu jalani." Kalimat seperti ini mungkin menjadi salah satu hal yang paling ingin didengar anak ketika meraih sebuah prestasi. Orang tua pun tentu merasa bangga melihat usaha, ketekunan, dan kerja keras yang akhirnya membuahkan hasil. Namun, d…

daniasundari11
AtomicEssay

AES002 Refleksi di Balik Cucian Piring

‎Sebagi wanita multi tasking, kegiatan mencuci piring, sering jadi momen untuk aku melakukan refleksi di luar kegiatan ibadah rutin. Tangan tetap bergerak, tapi pikiran bisa bermain, karena aku jadi bisa ngobrol dengan diri sendiri. Sekelumit pertanyaan dasar: Kenapa aku tidak nyaman hari ini? Apa…

daniasundari12
AtomicEssay

AES001 Belajar Mengenali, Bukan Dikuasai

Takut dan cemas adalah dua perasaan yang sama-sama tidak nyaman untuk dirasakan. Ketika keduanya muncul bersamaan dalam diriku, sering kali apa yang sudah aku rencanakan jadi gagal, karena aku sudah lebih dulu diliputi oleh perasaan itu. Makna takut dan cemas memang tidak jauh berbeda. Keduanya sal…

daniasundari11