AES005 Kursi Goyang

Sembari menunggu air dalam teko yang baru kunyalakan tadi, aku duduk mengayun pelan di atas kursi goyang. Kupandangi dinding besar di depanku yang penuh tertempeli pigura dan kuamati satu persatu gambar-gambar rupa orang yang ada di dalamnya.
Datang dan pergi, awal dan akhir, barisan kata itu pun segera muncul mewakili rasaku melihat rupa-rupa orang yang tergambar di dalam pigura-pigura itu. Sosok-sosok yang pergi dan peristiwa-peristiwa yang berlalu. Kenangan yang bersisa tertaut seperti paku yang menancap di dinding dan menjaga agar pigura itu diam ditempatnya.
Kursiku terus mengayun ke depan dan ke belakang bergantian, bergerak tak henti tapi tak kemana-mana.
What are you clinging for?
Derit suara teko terdengar sayup-sayup namun aku tak beranjak dari kursi yang terus bergoyang sesibuk pikiranku. Menempel erat meski hidup berarti terus bergerak maju seperti jantung yang berdetak dan detik yang bergeser satu demi satu.
Dari Kali hingga Black Madonna, kali ini aku tak kemana-mana. Si kopi hitam pun menunggu kutuangi air mengalir dari teko.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES107 Konstelasi Bintang
Kemarin adalah kelas ketiga dan yang terakhir dari rangkaian kelas daring tentang Human Design. Semalam, sama seperti dua minggu sebelumnya, aku kembali terbangun tengah malam karena pikiranku yang begitu aktif. Selama tertidur, rupanya pikiranku membawa informasi barunya dan diolah di alam bawah s…

AES106 Berkenalan dengan Human Design
"Ga semua orang bisa jadi inisiator, kecuali dia Manifestor" ujar temanku yang sedang serius mendalami Human Design. "Jadi kita ga bisa paksa anak kita untuk bisa punya inisiatif. Ada yang memang butuh diajak kalau tipenya Projector, bahkan kalau dia Reflector, setelah diajak pun dia perlu waktu 28…

AES105 Ambyar
Ambyar, kurang lebih seperti itu gambaran perasaan seseorang saat ekspektasinya berbenturan dengan realita lalu runtuh berserakan. Kemegahan yang terbangun tanpa sadar ketika membayangkan satu situasi dari luar, sirna seketika... seperti menguapnya mimpi begitu mata mulai terbuka. Frustasi, begitu…
