AES007 Don't Judge a Book by Its Cover

Don't Judge a Book by Its Cover
Disclaimer:
Isi esai ini tidak berhubungan dengan gambar di atas.
Sekitar akhir Juli lalu, Mbak Esih jatuh sakit. Hal ini tidak sengaja aku ketahui saat pengambilan bahan karya anak-anak, yang kali ini diurus oleh Mas Oji.
Saat itu kasus covid sedang tinggi-tingginya di Bandung, jadi berita sakitnya Mbak Esih cukup mengkhawatirkan. Apalagi, info yang kudapat setelah mengontak Mas Woto, gejala Mbak Esih adalah demam, sakit kepala, dan diare. Waduh! Tapi untungnya Mas Woto sudah membawa Mbak Esih ke dokter. Menurut dokter, ada masalah pada pencernaan Mbak Esih. Ah... agak lega mendengarnya, meskipun masih terselip sedikit rasa khawatir.
Beberapa hari itu aku memantau keadaan Mbak Esih via Mas Woto, dan Mas Woto pun banyak meng-update kondisi istrinya di status WA. Dari beberapa foto terlihat Mbak Esih sedang tiduran sambil memakai oxymeter dan ada foto Mbak Esih yang sedang dikompres, beserta caption berisi doa supaya belahan jiwanya itu cepat pulih. Bahkan, ada foto pepes tahu yang sedang dimasak Mas Woto untuk Mbak Esih, hahaha... So sweet, ya?
Pada hari ketiga sejak ke dokter, Mas Woto membawa Mbak Esih untuk diperiksa lagi. Demamnya sudah turun tapi perut masih melilit, lapor Mas Woto. Kemungkinan masalahnya memang pada pencernaan karena dulu Mbak Esih juga pernah mengalami sakit seperti ini dan setengah bulan baru sembuh.
Sampai hari kelima Mbak Esih masih belum pulih dan Mas Woto tetap setia mengurusnya. Aku pun tidak terlalu mengkhawatirkannya lagi karena Mas Woto terlihat begitu telaten. Kompres botol hangat di perut, memasakkan bubur, dan membuatkan ramuan madu-kunyit untuk Mbak Esih.
Aku sempat mengontak Mbak Esih kira-kira seminggu sejak ia sakit, sudah mendingan katanya. Awal Agustus, Mbak Esih sudah sembuh dan tinggal pemulihan, syukurlah!
Yang tidak kusangka, di balik penampilannya yang kadang ketus, ternyata Mas Woto berhati Rinto meskipun bertampang Rambo, wkwkwk...
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES053 Learn, Unlearn, Relearn (3)
Akhir 2024 kemarin aku berkesempatan naik kereta jarak jauh, Bandung - Malang, selama 13 jam. Ini kali pertama setelah lebih dari 20 tahun lalu aku tidak pernah berkendara selama itu menggunakan kereta api. Tentu, banyak sekali perubahan yang kurasakan. Kulihat, KAI banyak berbenah diri. Gerbong ke…
Mega23
AES052 Sebuah Perjumpaan pada Sebuah Musim
Bulan Januari. Hujan masih sering turun, meskipun tidak sekerap bulan November dan Desember kemarin. Buah rambutan mulai sering terlihat tergantung di kios-kios buah di tepi jalan. Aku jadi teringat, di suatu sore kira-kira dua bulan lalu, saat aku sedang mengupas buah mangga, tiba-tiba sebersit ra…
Mega30
AES051 Melipir
Sudah satu minggu aku berhenti menulis. Eh, bukan berhenti, tapi 'terhenti', kata kak Andy. Tidak apa-apa terhenti, tapi jangan berhenti. Terhenti hanya sementara, seperti saat kita mengemudi lalu tiba-tiba lampu lalu lintas berubah merah. Kita terhenti sebentar, lalu melaju lagi menuju tempat tuju…
Mega00