AES008 Para Perajut Ide
```'```''```'''```''''```'''''```''''''
Manusia adalah makhluk yang amat tidak rasional. Keberadaan pikiran, secara fundamental, membuat kita bisa merasakan sesuatu yang tidak nyata. Itu membuat kita bisa mengecilkan perkara besar dan mendewakan perkara sepele. Agak lucu, sebenarnya; pikiran kita adalah senjata terbesar manusia untuk menjadi makhluk paling berkuasa di bumi, tapi pikiran kita juga amat-sangat cacat dan tidak akurat. Subjektif namun tidak sadar diri, enigmatik tapi tertebak.
Kita juga gemar menghubungkan ini dan itu, merajut kumpulan pikiran yang silang- menyilang sehingga menjadikan sesuatu yang berbeda dan baru. Kita seperti laba-laba, menghubungkan ide demi ide sederhana untuk membangun konsep yang berlapis-lapis. Kita melahirkan bahasa dari kata-kata, yang berasal dari kumpulan suara, yang berawal dari getaran suara dari tenggorokan. Kita melahirkan sistem hukum dari konsep keadilan, yang berasal dari persepsi kita soal batasan-batasan dari hidup kita.
Kurasa itu menarik. Lantaran pikiran kita terbalut banyak prekonsepsi yang membentengi diri sendiri, menyelidiki jalan pikiran- kalau memang ada- secara jernih merupakan tugas yang sulit, kalau bukan mustahil. Meski begitu, orang tetap mencoba. Kadang, dengan menuangkan segala hal di pikiran kita, kita bisa menyingkap suatu simpul yang tersembunyi di lubuk pikiran kita.
Dan itulah kenapa, dengan pola di pikiran dan percikan sentimental, kurasa manusia bisa mengambil makna dari jalanan kosong dan piring setengah kosong dan boneka penuh jahitan, dari apa saja. Dan dengan makna, manusia bisa menjadikan luka sebagai bahan bakar dan menemukan keindahan di embun pagi yang dipastikan akan menghilang dalam hitungan menit. Hidup ini jauh dan dingin, tapi manusia bisa menemukan keberanian untuk tetap peduli.
Dan aku rasa itu luar biasa.
Komentar (2)
Tulisan yang keren ini... Suka banget. Terima kasih Farzan
Menyala abangku
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES20: Perjalanan Berangkat dan Hari-Hari Lambat
Tahukah kamu, mengapa perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada berangkat? Itu karena fenomena psikologis yang disebut sebagai return trip effect, di mana otak kita sudah familiar dengan rute perjalanan sehingga tidak perlu bekerja keras memproses informasi baru Prinsip yang sama bekerja saat k…
Farzan61
AES21- Hidup Untuk Hidup: Pemaknaan Film Perfect Days
Film Perfect Days merupakan film yang lambat, datar dan- bahkan- membosankan. Film itu bercerita mengenai keseharian seorang pembersih toilet sederhana bernama Hirayama saat dia bertugas membersihkan toilet dengan telaten, membantu orang-orang, dan berurusan dengan rekan kerja yang menyebalkan. Dia…
Farzan10
AES20- Tentang Waktu, Motor, dan Produktivitas
Saat kamu menyadari waktu yang berlalu, setiap detik selalu terasa seperti menetes terbuang dari tangkupan tanganmu, dan tiba-tiba harimu di masa-masa remaja tinggal hitungan jari. Aku belum ingin dewasa! Aku merasa aku belum cukup bijak dan pemberani untuk menantang dunia, dan aku jelas-jelas belu…
Farzan10
