AES008 Perjalanan

Selepas subuh tadi menyambut tanya "Mau kemana kita hari ini?", melajulah empat roda di jalanan yang sepi menjauh dari perkotaan. Kilau mentari menemani sunyi, perlahan merambat naik menghangatkan pagi dibalik pepohonan. Aku selalu suka melihat semburat cahaya mentari, baik pagi hari maupun sore hari, cuma satu yang tak kusuka ketika kelembaban sukses membuat bajuku basah menempel dikulit. Tapi tidak dengan hari ini, setiap peluhnya kusyukuri dengan teramat sangat.
Perjalanan kami kali ini bisa dibilang tanpa rencana, selain karena tempat yang diniatkan semula ternyata masih ditutup, kami pun tak punya tujuan lain. Rasanya, jika waktu tempuh ditambah dua puluh menit lagi pun tak terasa melelahkan, jelas karena kami masih nyaman menekuk lutut dan duduk berkendara. Tidak ada yang mesti dibebankan pada tungkai-tungkai kaki. Hanya perlu mata yang jeli untuk merekam suasana perjalanan itu.
Kuingatkan diriku tentang membaca yang tak hanya terbatas pada buku, serta kuingatkan lagi R tentang masa-masa kecilnya dulu yang selalu kuajak mengamati bentuk awan. Arak-arak indah melukis langit. Masyaa Allah, tak ada yang sebanding daripada itu semua.
Fa bi' ayyi ālā 'i rabbikumā tukażżibān
Kutajamkan pendengaran, berharap dengan begitu bisa kuingat selalu suara dari daun bambu yang saling bergesekan, kerikil yang kuinjak, serta gemuruh air terjun. Kuajak juga R menikmati semua dalam diam; hening yang tak sepi, mengisi sejenak rasa. Dan tak mau kusia-siakan kesempatan memanjakan kaki untuk menginjak rerumputan sebelum kembali pulang.
Puas bermain air, kami mengunjungi satu desa yang tak jauh dari situ. Inilah saatnya R menemukan tanpa dicari, dengan terjawabnya sebuah tanya di waktu lalu tentang adakah manusia yang berumur panjang seperti Nabi Ibrahim hingga lebih dari seratus tahun? Kami dipertemukan dengan beliau, yang masih sangat baik pendengaran bahkan ingatannya. Barakallah Fiiki.
Usai berpamit dengan banyak sekali dibekali hasil bumi, kendaraan melaju perlahan. Perjalanan singkat selama enam jam ini mengajarkan banyak ketulusan, penerimaan yang berbeda, juga membuat kami memikirkan banyak hal, tentang ikatan yang terjalin seumur hidup dan tentu saja semakin membuatku paham dengan alasan Bapakku (Rahimahullah) untuk selalu berpegang pada kebaikan.
"Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." QS. Al-Qashas : 77
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES99 Suaka Paling Nyaman
Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

AES98 Melihat Sisi Positif
Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

AES97 Gerbang Kisah
Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…