AES009 - Dihitung

Desember tahun 2023. Ada aturan baru yang dibuat sama istriku. Aturan ini cukup menakutkan awalnya. Walaupun sampai sekarang masih menakutkan.
Pada hari minggu, anak-anak tidak akan diberi makanan apapun. Mereka harus mengusahakannya sendiri. Bisa memasak dari hasil kebun atau hasil ternak, ataupun keluarin uang yang mereka punya untuk membeli bahan makanan atau makanan jadi. Intinya, mereka harus mengusahakannya sendiri. Mau beli jadi atau memasak sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka di hari minggu.
Sebelum masuk aturan ini, anak-anak terlebih dahulu sudah dibekali bagaimana cara mengupayakan supaya bisa hidup di hari minggu tersebut. Anak-anak diberi poin, tapi poin ini pun bisa dikurangi. Poin bertambah dan berkurang sesuai dengan apa yang dilakukan. Ada tugas-tugas yang dikerjakan agar bisa mengumpulkan poin, tapi ada juga hal-hal yang tidak boleh atau jangan dikerjakan supaya poin tidak berkurang.
Contoh ketika King bisa mengupayakan permainan caturnya di angka tertentu, maka King akan mendapat poin. Contoh lain ketika Trystin berlatih piano selama beberapa waktu, maka Trystin juga berhasil mendapat poin. Namun jika tidur melebihi waktu yang ditentukan, maka poin mereka akan dikurangi. Banyaknya penambahan atau pengurangan poin ini sudah didiskusikan terlebih dahulu dengan anak-anak, jadi tidak ada keputusan sepihak saja.
Suatu hari, mereka minta ke supermarket untuk beli bahan buat hari minggu. Ada hal menarik yang saya perhatikan. Mereka berhitung mana yang lebih murah. Apakah bungkus besar atau beli yang kecil saja? Sampai-sampai mereka membandingkan per gram untuk bungkus besar dan kecil tersebut. Adalagi ide untuk tidak membeli barang yang sama, karena mereka memiliki uang masing-masing. Tujuannya agar mereka bisa mencoba beberapa barang yang berbeda.
Sangat menarik melihat tingkah dua bocah ini, rela turun naik tangga untuk mendapatkan barang yang "value". Biasanya kalau belanja, mereka tidak terlalu tertarik untuk melihat harga, cukup membaca rasanya saja. Uangnya uang papa dan mama.
Semester ini, ada To Do List dari SMIPA. Hal ini sejalan dengan yang saya ceritakan di atas. Betapa bahagianya istriku, bahwa sekolah ini juga melakukan hal yang sama. Mungkin mereka bisa mendapatkan poin juga dari To Do List, untuk mengurangi beban hidup mereka di hari minggu.
Begitulah istriku, selalu menyiapkan bekal di hari nanti. Awalnya sedih sekali ketika hal ini mau diterapkan, tapi melihat dua bocah sangat antusias. Maka baiklah ini tetap berjalan. Semoga anak-anak bisa mengambil hikmah dari pengalaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES013 Tidak Semua Rindu Harus Diulang
Sejujurnya dulu saya adalah orang yang tidak suka anak kecil. Tapi bukan tendensi untuk menyakiti (mencubit, pukul atau memelototi), lebih ke saya tidak bisa being nicer to kids aja. Perlahan saya sadari ketidaksukaan pada anak adalah pola yang diturunkan Ibu. Ia bisa dengan tenang bilang dulu tida…

AES012 Waktu Itu Apa?
Kalau dipikir-pikir, awal mula saya menulis di AES ini dan menyelesaikan tulisan ke 1-9, saya masih menjalani pekerjaan full time. 8 jam sehari, commute 4 jam PP seminggu dua kali, sisanya bekerja di rumah atau di manapun yang ada koneksi internet. Selain itu, saya masih pumping dan menyiapkan asip…

AES 012 : Cerita Ngobras #5
Ngobras 5 dengan tema "Ekspektasi" ini cukup bikin terkejut bahagia karena walaupun agak lebih pede bakal lebih rame (karena temanya cukup luas dan seru), ternyata yang hadir malah banyak, di luar ekspektasi! Memang lebih asik ketika ga ngarep apa2 terus terkejut bahagia ga sih? Hihihi.. Di Ngobras…
Lei60
