AES01 - Menulis

[repost dari ning]
Semakin ke sini, semakin sering aku menulis. Kadang esai, kadang cerita, kadang catatan di buku harian. Masa-masa produktif kegiatan menulisku dimulai sekitar lima tahun yang lalu, ketika berumur tujuh tahun. Waktu itu, banyak tulisanku, bertebaran di mana-mana. Di kertas bekas, di buku tulis, di buku tulis lain lagi. Tetapi tidak pernah ada satu pun cerita yang tamat. Tulisanku semakin berkurang.
Tahun lalu, pada awal pandemi, aku mulai tertarik menulis lagi. Lebih banyak waktu sekarang, jadi tentu bisa dimanfaatkan. Namun, kali ini aku bertekad menulis cerita-ceritaku sampai tamat.
Lama-kelamaan, aku mulai kembali ke dunia menulis. Ternyata lebih kunikmati sekarang, mungkin karena sudah lebih besar, mungkin karena sudah bertekad, mungkin karena tidak ada kerjaan lain selama karantina. Sekarang, tulisanku sudah banyak lagi—tapi proyeknya proyek yang sama, fokusnya fokus yang sama. Semangat menulisku sudah kembali lagi, seperti dulu.
Tapi, ada beberapa perbedaan besar di antara tulisanku dulu dan sekarang. Perbedaan yang paling terlihat adalah jumlahnya.
Aku sering membaca buku almanac NatGeo Kids. Ada satu artikel di situ yang bercerita tentang kiat fotografi. Salah satu saran yang kuingat adalah ‘quality, not quantity’. Aku merasa tulisanku dulu quantity-nya banyak sekali. Tetapi kualitasnya kurang memuaskan.
Perbedaan yang lain adalah bahasanya. Dulu, cerita-cerita itu kutulis dalam berbagai bahasa. Ada yang berbahasa Inggris, berbahasa Indonesia, bahkan Bahasa Negeri Aneh—sebuah dunia fiktif yang pernah kubuat saat masih kecil. Sekarang, kebanyakan tulisanku berbahasa Inggris. Baik novel, buku harian maupun cerpen. Entah kenapa, aku merasa lebih nyaman menulis dalam Bahasa Inggris. Kadang aku merasa agak menyesal, tetapi sekarang aku tahu itu tidak apa-apa asalkan tidak melupakan bahasa ibu.
Dugaanku, Bahasa Indonesia sudah tertanam di pikiranku sebagai bahasa sehari-hari, untuk mengobrol dan bercanda. Sementara Bahasa Inggris tertanam sebagai bahasa literasi, karena kebanyakan media yang kucerna sejak kecil memang berbahasa Inggris. Menulis dalam Bahasa Indonesia menjadi lebih sulit bagiku karena hal ini. Itulah mengapa aku ikut AES. Aku ingin berlatih menulis dalam Bahasa Indonesia. Aku ingin mencoba menyeimbangkan kedua bahasa ini. Tapi aku akan tetap menulis dalam Bahasa Inggris juga.
Terima kasih sudah membaca…
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES217 Penulis Baru AES
Hari ini ada dua hal yang menggembirakan, lebih dari itu bahkan membahagiakan buat saya. Pertama kami berhasil menuntaskan proses rapotan dengan baik dan menyerahkan Buku Cahaya Bintangku versi digital kepada rekan-rekan orangtua. Jam sebelas tadi, saya menutup proses rapotan bersama seluruh kakak…
Andy Sutioso102
AES208 Don’t Try
Charles Bukowski tried his whole life to become a writer. After school he wrote hundreds of stories in the hopes that they would be published and be recognized, making it into his living, but it never quite happened. Disillusioned, he took a blue collar job in a Post Office, where he worked for 10…

AES062 Menulis
Belakangan ini kegiatan menulisku berselang seling dengan pekerjaan memijat. Dulu di awal menulis jadwal menulisku cukup acak, kadang siang hari selesai memasak atau makan siang, kadang sore hari sembari duduk-duduk di teras, atau di malam hari seusai doa malam sampai menjelang tidur. Seiring waktu…

