Atomic Essay

AES010- Lukisan Tua nan Pudar

Farzanpenulis arsip2

Banyak hal yang datang beriringan di dunia ini. Hari dan malam, sendok dan garpu, 17an dan lombanya. Peringatan kemerdekaan kita memang sudah identik dengan pertandingan siapa-yang-makan-bisa-sambil-melanggar-aturan secepat mungkin. Lomba ini sudah amat melekat pada budaya masyarakat Indonesia, barangkali lebih dibanding makanan terlezat di dunia (katanya) atau keragaman adat-istiadat yang begitu kaya.

Hari ini, warga Smipa menyelenggarakan perlombaan 17an nan spesial itu. Tentu saja, sebagai acara tahunan, ada satu-dua harapan dan ekspektasi yang diseret bersamanya; dan OSIS seperti biasa harus menyandangnya. Dan mereka, seperti biasa, melakukan tugas mereka dengan bagus dan berkesan. Tapi, entah kenapa, aku merasa kalau 17an- tetap saja masih kurang. 

Kalau boleh jujur, aku sebenarnya merasa kalau suasana 17an semakin kesini semakin memudar. Lomba-lomba 17an dulu merupakan salah-satu memori berkesan paling tua milikku tentang Smipa- kenangan-kenangan tentang mencoba menangkap kerupuk yang tergantung di tali dan berlomba-lomba mengejar garis batas dengan kaki terkekang sarung di tengah gegap-gempita tawa dan sorakan. Jika Musik Sore unik karena suasananya yang bittersweet, 17an dulu rasanya meriah dan gembira dan berwarna-warni.

Tapi 17an akhir-akhir ini- setidaknya menurutku- rasanya tidak lagi memiliki pesona magis itu. Mungkin itu hanya aku yang bertumbuh semakin tua dan apatis. Mungkin itu hanya aku tak lagi tertarik pada hal-hal yang dulu kugemari. Tapi kalau iya, sungguh sebuah konklusi yang tidak mengenakkan. Apa begini rasanya tumbuh dewasa? Untuk menjadi orang asing di tengah kawan-kawan lama?

Mengabaikan si aku nan melodramatis, lomba hari ini berjalan bagus. OSIS tampaknya mencoba mengeluarkan semua yang mereka bisa. Memang, ada masalah teknis seperti pengaturan dan penjadwalan yang agak berantakan, tapi kami cukup gembira. Anak-anak kecil terutama, tampaknya senang sekali tertawa riang.

Dan bukankah itu yang penting? Agar kelak, bahkan ketika mereka mulai bertumbuh menjadi pahit dan penggerutu seperti kita semua (seperti aku), mereka punya kenangan manis soal hari ini.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Atomic Essay

AES20: Perjalanan Berangkat dan Hari-Hari Lambat

Tahukah kamu, mengapa perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada berangkat? Itu karena fenomena psikologis yang disebut sebagai return trip effect, di mana otak kita sudah familiar dengan rute perjalanan sehingga tidak perlu bekerja keras memproses informasi baru Prinsip yang sama bekerja saat k…

Farzan61
Atomic Essay

AES21- Hidup Untuk Hidup: Pemaknaan Film Perfect Days

Film Perfect Days merupakan film yang lambat, datar dan- bahkan- membosankan. Film itu bercerita mengenai keseharian seorang pembersih toilet sederhana bernama Hirayama saat dia bertugas membersihkan toilet dengan telaten, membantu orang-orang, dan berurusan dengan rekan kerja yang menyebalkan. Dia…

Farzan10
Atomic Essay

AES20- Tentang Waktu, Motor, dan Produktivitas

Saat kamu menyadari waktu yang berlalu, setiap detik selalu terasa seperti menetes terbuang dari tangkupan tanganmu, dan tiba-tiba harimu di masa-masa remaja tinggal hitungan jari. Aku belum ingin dewasa! Aku merasa aku belum cukup bijak dan pemberani untuk menantang dunia, dan aku jelas-jelas belu…

Farzan10