AES013 Anak Api

'Ayo Milo, matanya bantu lihat tulisannya... Mulutnya bantu bersuara juga, jadi telinganya dengar... Sembari nulis, semuanya bantu ya..'
Pagi ini aku teringat kata-kataku sewaktu mengajari Milo belajar berhitung, entah di kelas berapa waktu itu.
Sekian tahun lalu kulakukan itu karena terasa sebagai kebutuhan untuk mengarahkan fokus Milo. Saat itu aku mengetahui bahwa ia memiliki kemampuan gerak yang dominan karena ia anak yang selalu aktif bergerak bahkan saat belum setahun ia juga bisa berjalan sendiri tanpa pernah dititah. Aku berpikiran bahwa dengan mengaktifkan seluruh inderanya pada hal yang sama akan membantunya.
Setelah mengenal Ayurveda, karakter yang kutemui dari pengamatan atas dirinya itu lalu kupetakan pada pola lima elemen utama untuk terus memahami dirinya. Dari sekedar tau teori kemudian berusaha melihat dan menemukan apa yang dimaksud dalam ilmu itu. Menemukan keterhubungan, dan juga kekeliruan analisa, semuanya berproses pada posisi belajar tanpa henti.
Aku menemukan Api sebagai elemen yang dominan pertama pada dirinya lewat gerak yang aktif, kecepatannya baik saat bergerak maupun berpikir hingga kecenderungannya suka buru-buru. Spontanitasnya yang ekspresif, energinya yang tinggi dan semangatnya yang menyala. Emosinya yang bisa meledak-ledak dan cenderung kurang sabaran. Tulang dan ototnya yang kokoh dan terlihat. Ketajamannya dalam menangkap dan menganalisa sesuatu. Serta kejeliannya dalam melihat sesuatu dan menakar keharmonisan sebuah komposisi.
Karakter demi karakter itu lalu kulihat dalam satu kerangka besar karakter Api, sehingga kini mudah buatku menerima semuanya bahkan yang dipandang sebagai 'kekurangan'.
Dulu, aku merasa terganggu dengan catatan di buku cahaya bintangku yang menuliskan tentang karakter-karakter yang dirasa butuh perhatian khusus itu. Hal itu pun sempat membuatku berkutat pada 'kekurangan'nya namun tidak pernah jitu untuk 'memperbaiki'nya hingga akhirnya frustrasi sendiri.
Kini, ketika semua karakter-karakter itu kulihat sebagai satu karakter utuh sebuah elemen, aku tak lagi memisahkannya sebagai yang positif atau negatif.
Aku paham bahwa ia memang begitu adanya. Aku hanya perlu membantunya mengerti siapakah dirinya supaya ia bisa membangun dirinya ke arah tepat.
'Nak, kamu itu api, ingat itu, kamu berhati-hatilah dengan api dalam dirimu itu, jangan sampai api itu melukai kamu, dan orang-orang lain di sekitarmu. Kamu jaga apimu itu agar cukup menerangi dan menghangatkanmu.'
Atau 'Hati-hati dengan ucapanmu dan emosimu ya, itu bisa seperti api yang menyembur ke luar. Belajar untuk kontrol dirimu'
Aku juga bisa membantunya dengan memberi asupan makanan yang tidak menambah-nambahkan api dalam badannya. Misalnya mengatur jumlah makanan yang digoreng, makanan yang pedas atau makanan yang asam. Memaklumi kalau ia selalu butuh bergerak setiap hari, dan menyediakan waktu untuk jalan pagi atau bersepeda bersama tiap akhir pekan. Masak makanan-makanan kesukaannya karena anak api nafsu makannya tinggi dan cenderung gusar kalau terlambat makan. Membatasi asupan gulanya bila mulai terlihat tanda-tanda inflamasi seperti gatal dan ruam merah di kulitnya.
Memperketat screen time bila matanya mulai kemerah-merahan karena dulu juga pernah bintitan sampai harus dioperasi.
Daftar ini pastinya akan terus bertambah seiring temuan-temuan lain nantinya. Meski begitu aku merasa jauh lebih nyaman sekarang, jika ada orang lain menyoroti lagi 'kekurangan'nya aku bisa tenang menjawab dan menjelaskan bahwa aku pun sedang berproses untuk terus mengarahkannya pada kesadaran.
Menumbuhkan biji pastilah lebih sulit, namun tanaman yang berasal dari biji pastilah lebih kuat dan kokoh akarnya, dan biji yang berhasil jadi tanaman pastilah biji yang unggul, dan jika tekun dipelihara pastilah berbuah nantinya.
Komentar (5)
Wah terima kasih sudah berbagi Yuli.. perjalanan panjang ibu untuk mengenali dan melihat potensi anak
Sama-sama kak Ine
Keren, Yuli. Gimana bisa tahu elemen yg dominan pada anak kita ya?
Dari mengamati katakternya Mega. Nanti kutulis jadi esai aja ya. Thanks idenya
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES107 Konstelasi Bintang
Kemarin adalah kelas ketiga dan yang terakhir dari rangkaian kelas daring tentang Human Design. Semalam, sama seperti dua minggu sebelumnya, aku kembali terbangun tengah malam karena pikiranku yang begitu aktif. Selama tertidur, rupanya pikiranku membawa informasi barunya dan diolah di alam bawah s…

AES106 Berkenalan dengan Human Design
"Ga semua orang bisa jadi inisiator, kecuali dia Manifestor" ujar temanku yang sedang serius mendalami Human Design. "Jadi kita ga bisa paksa anak kita untuk bisa punya inisiatif. Ada yang memang butuh diajak kalau tipenya Projector, bahkan kalau dia Reflector, setelah diajak pun dia perlu waktu 28…

AES105 Ambyar
Ambyar, kurang lebih seperti itu gambaran perasaan seseorang saat ekspektasinya berbenturan dengan realita lalu runtuh berserakan. Kemegahan yang terbangun tanpa sadar ketika membayangkan satu situasi dari luar, sirna seketika... seperti menguapnya mimpi begitu mata mulai terbuka. Frustasi, begitu…


