AES015 Persona

Pernah lihat meme ini? “saya aslinya 2 orang”
Memenya lucu tapi kalau digali lebih dalam ini menarik. Kita yang sedang bersama orang lain akan berbeda saat kita sendirian. Apa benar?

Ada Japanese proverb yang isinya kira-kira begini,
“we all have three faces: one we show to the world, another to our close ones, and a last one we keep only for ourselves”
Jadi ingat lagu three little pigs.
Kok ga nyambung? Percayalah ini nyambung.
Serigala datang mengejar 3 anak babi. Anak babi pertama dirumah jerami berhasil kabur ke rumah anak babi kedua dirumah ranting, masih dikejar kemudian mereka berdua lari ke rumah bata milik anak babi ketiga. Ketiganya aman dirumah bata. Bye serigala.
Begini, serigala lapar seperti pandangan orang lain terhadap diri kita.
Anak babi pertama seperti persona kita terhadap dunia luar, wajah ketiga kita, jerami yang rapuh tidak bertahan lama. Mudah sekali berganti wajah, dengan siapa kita bertemu itulah wajah yang kita pasang. Seperti bertemu orang baru atau filter di sosial media. Label sosial terpampang jelas di wajah. Menampakkan yang terbaik tapi hanya sementara.
Anak babi kedua seperti persona kita terhadap orang dekat, wajah kedua kita, sang coping mechanism, jerami mulai lapuk oleh waktu digantikan oleh ranting penopang yang mudah terbakar. Kedekatan emosional membuat kita melupakan wajah ketiga. Mulai melonggarkan tali pengikat tapi tidak sepenuhnya terlepas. Masih ada keraguan untuk menampakkan diri. Memasang wajah berbeda tergantung dengan siapa kita berinteraksi. Semakin dekat semakin longgar.
Anak babi ketiga adalah persona kita terhadap diri sendiri. Wajah pertama kita, bata kuat yang melindungi dari serigala. Dibalik dinding kita dapat menjadi diri sendiri tanpa adanya penghakiman dari orang lain. Tapi apakah dinding bata ini melindungi anak babi dari serigala, atau membuat anak babi terpenjara?
Rasanya ketiga anak babi itu perlu melakukan perjalanan untuk mencari anak babi keempat. Anak babi pemberani, yang akan melindungi babi bersaudara dari serigala. Anak babi keempat, wajah ke-nol, wajah asli kita, wajah kita sebenarnya. Wajah yang sudah mencintai dirinya sendiri, yang tidak perlu bersembunyi lagi dibalik tembok.
Secara tidak sadar pemilihan judul ini pun memakai wajah ketiga ku “Persona” agar lebih estetik dan konteksnya mudah dipahami. Coba kalau memakai wajah ke-nol ku judulnya “Cerita Empat Babi Kecil”.
Mind blowing yah.
Jadi persona mana yang menulis cerita-ceritamu itu?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…
