AES018 Kumpul Keluarga

Aku selalu menunggu momen kumpul keluarga terutama keluarga dari mamaku. Tidak harus menunggu lebaran atau libur sekolah, karena kami ini sukanya berkumpul jadi saat ada yang ulang tahun biasanya kami akan berkumpul merayakan bersama.
Hampir semua orangnya sefrekuensi jadi kalau ngobrol asik. Biasanya kalau sudah kumpul di teras belakang rumah bisa seharian, bergantian ada yang makan, tidur, masak tapi tidak pernah kosong pasti selalu ada orang di teras itu. Makin malam, saat anggota mulai berdatangan suasananya lebih hidup. Mamaku bersaudara perempuan semua. Jadi para paman ini ipar, tapi semua leluasa tidak ada jarak. Semua sama tidak ada yang berjarak.
Mulailah dari sharing kehidupan, nostalgia masa lalu, lanjut roasting satu sama lain. Orang-orang ini memang lucu, mau diledekin segimana pun tetap ketawa. Tanteku apalagi kalau sudah mulai bercerita dia akan ketawa duluan, mukanya merah, suaranya hilang, badan terpingkal-pingkal. Semakin didesak melanjutkan cerita semakin merah mukanya. Kita yang tidak tahu dia mau cerita apa juga ikutan tertawa. Ketawanya nular.
Pamanku yang bungsu, anggota terakhir yang bergabung dikeluarga orangnya santun tapi lama-lama ya ketularan kami. Sekarang sudah bisa ikutan roasting yang lain, tapi masih kalah oleh kami para keponakan yang iseng suka sekali mengerjai si paman. Kalau sudah begitu biasanya papaku akan menengahi kami, sambil bercanda bilang kalau keterusan pamanku akan pulang. Pamanku yang merasa dibela akan bertingkah seperti anak-anak, lalu kami semua akan tertawa lagi.
Begitulah love language keluarga kami, words of affirmation caranya memang agak unik, dengan me-roasting satu sama lain. Hahaha
Saat pandemi pun begitu, kami bertegur sapa melalui zoom. Belajar memainkan alat musik bersama. Karena koneksi jaringan kadang suara delayed. Kami tertawa saja karena jadi tidak nyambung lagunya. Memasuki new normal kami mulai berkumpul lagi, dengan skill musik yang kami pelajari saat pandemi, kami membentuk grup musik. Aku si buta nada hanya menyumbang suara ukulele yang lumayan mudah. Seru karena semuanya berusaha mengiringi lagunya. Tidak sempurna tapi luar biasa.
Momen-momen seperti ini yang membuat kita lebih hidup. Menjaga silahturahmi dengan keluarga. Berkumpul dengan orang-orang sefrekuensi. Saling mengasihi dan saling belajar.
Akan kuteruskan keseruan ini dikeluargaku nanti.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…
