AtomicEssay

AES019 Antara Intelegensi dan Intelektualitas

Andy Sutiosopenulis arsip2

Salah satu yang saya pelajari dari sosok yang eksentrik tapi luar biasa, Sadhguru - adalah bagaimana manusia sangat tidak memahami kediriannya. Manusia belajar banyak tentang hal-hal di luar dirinya, tapi sama sekali tidak paham tentang dirinya, hidupnya.

Dari Sadhguru, saya baru memahami kenapa banyak orang-orang di India yang jadi yogi, jadi petapa. Orang-orang yang kerjanya hanya duduk berdiam diri dan bermeditasi. Seakan tidak ada hal lain yang penting di luar dirinya. Saya baru paham bahwa mereka betul-betul memfokuskan diri mereka ke dimensi dalam kehidupannya.

Sadhguru bilang, tubuh manusia itu diciptakan seperti antene televisi (TV jaman dulu) yang dalam posisi dan kondisi yang tepat, yang pas, manusia akan bisa tekoneksi dengan alam semesta. Para yogi ini, misi hidupnya adalah menemukan posisi dan kondisi yang pas agar bisa menembus batasan antara dirinya (mikrokosmos) dan semesta raya (makrokosmos).

Dari Sadhguru juga, saya baru memahami bahwa yang disebut Yoga itu adalah kondisi di mana kedirian manusia sudah melebur dengan semesta di luar dirinya. Dalam kondisi Yoga, manusia sudah melampau batas-batas fisikalitas dirinya, dan di sanalah ia terkoneksi dengan alam semesta. Dan dalam kondisi itu tidak lagi diperlukan lagi intelektualitas (kerja otak) karena yang bekerja adalah kecerdasan (intelegensi manusia) yang ada di seluruh bagian dari dirinya. Di dalam yogic sciences (ya, Yoga adalah sains juga yang dilakukan melalui jalan spiritual – atau dikenal sebagai spiritual science) ada dikenal banyak dimensi kecerdasan manusia - melampaui intelektualitas otak kita, hal yang jadi signifikan di alam pemikiran barat - sampai filsuf Rene DesCartes bilang : Cogito Ergo Sum : Aku berpikir karenanya aku ada. Hal ini sangat terbalik dengan pemikiran Timur yang bilang bahwa Aku ada, karenanya aku bisa berpikir.  

Intelektualitas (kerja otak) adalah terutama bermanfaat untuk bertahan hidup (survival). Karena otak manusia sangat terkoneksi dengan kerja panca indera kita. Tapi tubuh kita menyimpan intelegensi luar biasa di luar sel-sel otak kita. Dimensi kecerdasan ini yang membuat manusia memiliki dimensi kesadaran tertentu, satu misteri yang sulit dipahami – tapi toh ada di dalam diri dan hidup kita sebagai anugerah Sang Maha Pencipta. Ini lah kenapa manusia punya kemampuan menjadi human being, bukan sekedar makhluk (creature) – di antara spesies lain yang hidup di muka bumi ini…

Komentar (1)

yulitjahyadi

YESSSS

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES771 Tentang KeIlahian Manusia

Beberapa waktu lalu mendapat kabar tentang buku yang baru saja diterbitkan oleh Gregg Braden. Salah satu tokoh - saintis yang menurut saya pemikiran-pemikirannya sangat holistik. Gregg banyak sekali meneliti tentang peninggalan peradaban-peradaban kuno, ancient civilizations - di seluruh penjuru du…

Andy Sutioso00
AtomicEssay

AES538 Technology for Humanity

Belum lama ini saya menulis tentang AI (Intelegensi Buatan). Tulisan pertama saya ada di sini. Sejak itu banyak sekali konten dari berbagai pihak, pakar teknologi yang menyoroti bahaya AI. Para proponen AI tentunya tidak kalah heboh menggelorakan potensi dan kehebatan AI. Di dalam konteks ini, kita…

Andy Sutioso01
AtomicEssay

AES522 Yang Paling Holistik (di Smipa)

Setelah sekian lama berproses, kalau ditanya tentang jenjang mana di Semi Palar yang pembelajarannya paling holistik? Saya akan jawab KPB. Juga jenjang KB dan TK. Kenapa begitu? Sederhananya karena di jenjang-jenjang tersebut, intervensi dari sistem kependidikan di luar Smipa terasa paling minimal.…

Andy Sutioso10