AtomicEssay

AES023 Meresapi atau diresapi

carloslospenulis arsip2

Sore itu, saya duduk sendirian, menikmati setiap hembusan angin yang terasa hangat dan lembut. Langit mulai berwarna jingga keemasan, seolah-olah matahari dengan pelan sedang bersiap untuk pamit dari panggungnya. Di momen itu saya merasa ada sesuatu yang berbeda, bukan sekadar menikmati pemandangan senja seperti biasa tetapi lebih kepada pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran: apakah saya sedang meresapi senja, atau justru diresapi oleh senja itu sendiri?

Saya mulai merenung. Saat menikmati senja, ada momen di mana saya mencoba meresapi setiap elemen di sekitar saya warna langit yang perlahan berubah, siluet pepohonan yang semakin gelap, dan angin sore yang terasa begitu akrab. Rasanya seperti dunia sedang memperlambat detaknya untuk memberi ruang bagi saya untuk merenung, berpikir, dan mungkin mengingat hal-hal yang jarang saya perhatikan di hari-hari biasa. Dalam momen ini, saya yang mencoba meresapi keindahan alam; meresapi keheningan dan ketenangan yang jarang saya rasakan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Namun seiring dengan waktu yang terus berjalan, saya mulai merasa bahwa bukan saya yang sepenuhnya meresapi senja, melainkan saya yang sedang diresapi oleh keindahan dan ketenangan itu sendiri. Ada perasaan menyeluruh yang menenangkan, seolah-olah senja tersebut menembus ke dalam diri saya. Tiba-tiba, segala kecemasan dan kekhawatiran memudar tergantikan oleh rasa damai yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti saya sedang larut dalam keindahan sore itu, dan sejenak lupa akan segala tuntutan hidup.

Inilah kekuatan senja momen transisi antara siang dan malam yang bukan hanya menawarkan pemandangan indah, tetapi juga membawa kita pada refleksi yang lebih dalam. Senja seolah menyelimuti kita dalam keheningan yang hangat, membiarkan pikiran-pikiran liar kita tenang dan menggantinya dengan ketenangan yang sederhana namun penuh makna. Dalam momen itu, saya menyadari bahwa hidup tidak selalu harus diisi dengan kesibukan tanpa henti ada waktu di mana kita perlu membiarkan diri kita diresapi oleh alam dan keindahan yang ada di sekitar.

Mungkin, inilah yang membuat momen-momen seperti ini begitu berharga. Ketika kita mampu berhenti sejenak dari rutinitas, dan membiarkan diri kita hanyut dalam keindahan yang sederhana di situ kita menemukan kedamaian. Entah kita yang meresapi senja atau senja yang meresapi kita pada akhirnya, momen itu memberi ruang untuk berdamai dengan diri sendiri. Dan di sanalah, duduk di bawah langit yang mulai berwarna jingga, saya menemukan inspirasi untuk menulis. Mungkin, ide-ide yang muncul itu adalah hasil dari pertemuan antara saya dan senja yang saling meresapi satu sama lain.

Komentar (1)

Andy Sutioso
Wah ini kudu colek kak @adhmsm dan @matheusaribowo, kakak-kakak yang senang bermain kata-kata. Carlos ini juga salah satu yang piawai mengolah kata dan merangkai makna...

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES192 Melihat Lebih Dekat

Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

carloslos00
AtomicEssay

AES191 Membedah KPB

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

carloslos00
AtomicEssay

AES190 Sonichi

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…

carloslos10