AtomicEssay

AES024 Siapa yang Membayar Biaya Ekologis?

Andy Sutiosopenulis arsip2

[repost dari Ning.com]

Lebih dari satu dekade lalu, saya menjumpai satu situs web yang namanya OneEarth.org. Situs ini masih eksis, dan masih konsisten memberitakan berbagai hal tentang lingkungan hidup – membangunkan kesadaran lingkungan buat kita semua. Ada satu artikel yang saya baca dan mengubah secara mendasar kesadaran saya tentang lingkungan hidup. Intinya adalah tentang Biaya Ekologis. Istilah Bahasa Inggrisnya environmental cost.

Artikel yang saya baca (singkat saja) menuliskan bahwa proses produksi sebuah mobil dari bahan baku (biji besi, karet, kwarsa yang dibuat kaca, minyak bumi yang dikonversi jadi plastik, kulit untuk jok mobil) dan lain sebagainya – sampai hasil akhirnya sebuah mobil yang kita pergunakan menghasilkan limbah sebesar 21 ton

21 ton limbah… Angka itu sangat mengejutkan dan membuat saya berpikir… Harga mobil yang kita bayarkan – katakan sekian ratus juta rupiah… Apakah biaya itu cukup untuk membayar pengolahan limbah yang dihasilkan untuk memproduksi mobil itu… Kita hanya membayarkan harga mobilnya. Kita membelinya karena merasa itu harga yang pantas untuk dibayarkan. Tapi kemudian, siapa yang membayar pengolahan limbah dari proses produksi mobil tersebut? Pertanyaan besarnya adalah siapa yang membayar biaya ekologis tersebut?

Pertanyaan ini saya kira valid bagi setiap produk yang kita beli dan manfaatkan setiap hari. Tidak heran kalau kita melihat sampah bertumpuk di setiap pojok bumi – yang tersentuh manusia. Sementara kalau ditanya, berapa biaya yang kita keluarkan untuk mengolah sampah rumah tangga kita? Lima puluh ribu? Seratus Ribu Rupiah? Cukupkah biaya yang kita bayarkan itu untuk mengolah sampah kita dengan baik – sehingga tidak menjadi pencemaran atau masalah setelah segala sesuatu yang kita manfaatkan telah habis kebermanfaatannya.

Ini yang jadi pemikiran saya setiap kali membeli barang – apapun itu. Pertama-tama yang saya pikirkan adalah kebermanfaatannya. Kemudian masa pakainya. Kendaraan yang saya pakai sehari-hari usianya sudah mendekati 20 tahun. Yang saya lakukan adalah memeliharanya sebaik yang saya bisa – sepanjang kebermanfaatannya masih bisa saya dapatkan.

Itupun saya masih merasa berhutang – karena biaya ekologis yang seharusnya saya keluarkan, belum saya bayarkan. Sampai hari ini saya masih berpikir, bagaimana saya bisa melunasi hutang saya tersebut… 

Karenanya tidak heran, masalah lingkungan yang sekarang terjadi begitu besar, karena sejak awal peradaban, manusia menimbun hutang ekologis, sampai hari ini. Dan kita semua harus membayarnya lewat berbagai kerusakan lingkungan, penyakit akibat polusi, bencana alam dan banyak hal lainnya. Semoga kita semua semakin menyadarinya. Salam. 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES743 Bertanya pada Meta (AI)

Dalam rangka mengenal AI lebih jauh, tentunya kita perlu mencoba bukan? Dan dari pengalaman tersebut - dengan berbekal kesadaran dan berpikir kritis, kita akan bisa menempatkan di mana kita bisa memanfaatkan AI dengan tepat. Saya belum mencoba banyak aplikasi - tapi sejak akhir tahun lalu, saya men…

Andy Sutioso00
AtomicEssay

AES373 Trapped in Bubblewrap

Sejak pandemi COVID-19, yang disebut online shopping meledak. Tidak bisa dihindari karena kita semua harus berdiam di rumah dan mengurangi mobilitas sehari-hari. Di sisi lain kebutuhan kehidupan terus berjalan, ekonomi juga perlu bergulir - sehingga akhirnya mengakibatkan meledaknya bisnis e-commer…

Andy Sutioso30
AtomicEssay

AES663 World Environment Day

Hari Lingkungan Hidup Sedunia memang sudah lewat beberapa hari lalu. Tepatnya tanggal 5 Juni. Hari-hari peringatan sepert ini memang setidaknya membantu kita untuk ingat sesuatu. Manusia modern memang terlalu sibuk untuk menaruh perhatian pada hal-hal penting. Jadi hal-hal seperti ini walaupun seri…

Andy Sutioso10