AtomicEssay

AES025 Konsisten

Sanyapenulis arsip2

Tidak terasa sudah sebulan lebih aku menulis. Awalnya takut untuk memulai, takut mencoba, takut. Kalau dipikir-pikir takut apa sih, menulis satu diantara ribuan tulisan, masuk ke laman pembaca lain juga belum tentu. Takut apa? Tidak terlalu banyak berpikir kuberanikan diri mencoba menulis, siapa tahu menarik, siapa tahu cocok, siapa tahu ada hal baru yang bisa dipelajari.

Setelah melawan rasa takut, muncul perasaan lega, perasaan excited, rasa penasaran timbul. Rasa ingin tahu, menantang diri sendiri sampai sejauh mana bisa bertahan, konsisten, apa yang dimulai harus diselesaikan. Tapi menulis rasanya tidak ada garis finis, selesainya dimana? Tidak ada ending-nya. Tidak seperti buku yang memiliki akhir, menulis menjadi catatan perjalanan, jurnal kehidupan. Awalnya adalah hari ini ketika membuka mata, akhirnya adalah hari ini ketika memejamkan mata. 

Lembar pertama, lembar yang paling menentukan apakah menarik? Apakah bersedia melanjutkan ke lembaran berikutnya? Kemudian akan berlanjut menulis lembaran-lembaran berikutnya 1 menjadi 10, 10 menjadi 20, lalu kembali ke pengaturan awal. Doubt.

Sudah bukan rasa takut atau rasa excited yang muncul. Keraguan. Biang kerok segala kegagalan. Mulai menunda, mulai sibuk dengan kegiatan lain, mulai mencari alasan. Inilah ujian sesungguhnya, ujiannya baru dimulai saat ini, saat sudah merasa bisa kita mulai kehilangan alasan untuk melanjutkan. Lagi-lagi ini aku versus diriku.

Seperti mempunyai tanaman, awalnya enggan untuk membeli, setelah senang akan terus membeli tanaman lain, senang memiliki koleksi tanaman kemudian disadarkan oleh tugas utamanya. Merawat. Seperti pandemi kemarin, orang-orang banyak membeli tanaman harganya bisa mencapai jutaan rupiah kemudian kehidupan new normal, orang-orang kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tanaman seharga jutaan rupiah melayang tinggal nama, hanya sebagai pengisi waktu luang saja saat pandemi. Padahal jika dirawat dengan baik akan memberikan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya.

Begitupun dengan menulis, saat perasaan excited perlahan memudar, ide untuk menulis dikesampingkan, dikalahkan oleh aktivitas lain yang menjadi kewajiban, akan timbul berbagai alasan untuk tidak melanjutkan.

Saat berhenti kita akan kembali ke setelan awal. Mulai dari nol. Malah lebih sulit karena ini sudah pernah dijalani, rasa penasaran akan hal baru sudah tidak ada. Makin sulit untuk melanjutkan. Mulai dari minus.

Sebenarnya tidak ada yang sulit, hanya perlu disiplin sampai hal ini menjadi rutinitas. Terus berlatih sampai hal ini menjadi kebiasaan. Terus dilakukan sampai menjadi muscle memory. Sampai menulis bisa dilakukan spontan tanpa berpikir.

Komentar (5)

joefelus

Selamat! Pengalaman saya, hal semacam ini akan terus terjadi berulang-ulang. Oh saya setuju paragraf terakhir. Ini keren! :)

Sanya

Waah dikomen Pak Joe yang legendaris senang sekali! Betul Pak nanti jadi siklus ya kalau sudah sering menulis semoga ikutan nular nih konsistennya Pak Joe.. Bisanya saya cuma baca tulisan Bapak tapi masih malu buat komen hehe.. jadi sahabat pena

Andy Sutioso

Wah ini keren ini. Prosesnya sdh mengalir sampe di sini. Semoga berlanjut terus... dan menular juga ke rekan² yang lain.

Sanya

Iya Kak semoga terus konsisten seperti sang legenda hahaha

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES016 Ekosistem Ririungan

Dulu aku suka sekali membaca, baca komik, tiap punya tabungan akan kubelikan komik. Koleksi komikku mungkin sudah ribuan. Hobi membaca komik dari kelas 1 SD sampai akhir SMA sebelum negara api menyerang hahaha, lambat laun kesenangan membacaku memudar. Setelah mulai kuliah komik berganti menjadi bu…

Sanya22
AtomicEssay

AES867 Pecah yang Membawa Bahagia

Sudah dua hari ini saya tersenyum-senyum sendiri, saat membaca esai-esai warga Smipa di Ririungan. Eh maksudnya bukan senyum-senyum ga ada penyebabnya ya. Ada banget. Saya bahagia melihat postingan rekan-rekan yang menuliskan esai pertamanya di ruang penulisan ini. Entah sudah berapa ratus warga Sm…

Andy Sutioso30
AtomicEssay

AES 1513 Antara Odading Dan AES

Sudah lama sekali saya tidak makan odading. Odading yang kalau di jawa sana kadang dinamai kue atau roti bantal, mungkin juga ada yang menyebut roti goreng walau seringnya roti goreng itu lebih padat seperti orang Okinawa menyebutnya Andagi. Eniwei, makanan jaman kecil saya ini kadang memang dikang…

joefelus22