AtomicEssay

AES#027 Menghidupi Kesadaran sebagai Manusia

Murdeanipenulis arsip2

Awalnya esai ini kuberi judul Menjadi Manusia Berkesadaran. Judul ini rasanya kurang tepat juga. Memangnya ada manusia yang tidak berkesadaran? Seolah kesadaran adalah sesuatu yang perlu diusahakan, dicapai. Dari tulisan-tulisanku sebelumnya, mungkin sudah sering kujelaskan bahwa kesadaraan adalah sesuatu yang ever-present, kita hanya perlu mengingatnya. Kesadaran itu gak ada tombol on/off-nya. Yang ada, kita sadar atau enggak bahwa kita sedang sadar. Anggaplah ini definisi dari berkesadaran ya.

Dalam sesi Ngobras#1 tanggal 15 Oktober lalu, kami berbincang tentang kesadaran dan bagaimana ia hadir dalam pengasuhan dan pendidikan. Beberapa orang tua yang hadir merasakan gema yang sama, ada kerinduan yang memanggil kami. Sejak awal, aku menyambut baik guliran ini karena memang menurutku kesadaran adalah pondasi, akar, fundamental dari kehidupan kita. Dan ini bukan hanya soal pengetahuan tentang kesadaran/spiritualitas, karena sebaik apapun konsep ini dijelaskan, tetap hanya akan berhenti di kata-kata jika belum diinternalisasi melalui pengalaman aktual.

Pengetahuan tentang kesadaran ibarat peta sebuah hutan, ia hanya akan menunjukkan arah. Tetapi desir angin, basahnya jejak tanah yang dipijak, aroma pepohonan, dan dinginnya udara hutan hanya akan bisa kita alami ketika kita menempuh perjalanan itu. Maka dari itu, harapanku forum orang tua ini tidak berhenti di pembahasan dan tukar pikiran, tapi juga saling mendukung dalam menempuh perjalanan batin. Meskipun konteksnya adalah pengasuhan dan pendidikan berkesadaran, tapi sesungguhnya karena kesadaran adalah pondasi, ia akan menghidupi juga semua sisi kehidupan kita.

Orang tua yang berkesadaran akan membawa ruang kesadaran tersebut di kesehariannya: di pekerjaannya, di rumah tangganya, di masyarakat dll. Medan frekuensinya akan membuka kemungkinan bagi mereka yang siap atau peka untuk ikut beresonansi. Karena ketika seseorang hadir dari ruang kesadaran, kesadaran yang sama dalam diri orang lain merespons, karena ia mengenali dirinya sendiri dalam keheningan itu. Dan itu bukan sesuatu yang kita lakukan, tapi bergulir secara alami. Mungkin di sanalah segalanya bermula, dari kesadaran tunggal yang mengenali dirinya sendiri melalui kita semua. Inilah tarian semesta.

---

Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7942/aes028

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7932/aes026-kisah-dua-serigala

Komentar (1)

Mega

Din, tulisan kamu bagus2! Ikut senang, sejak tulisan pertama waktu itu, skr udah 20+. Kereeen...

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES854 Ngopi AES LimaBelas Sepuluh

Selepas Ngobras pagi menuju siang, sore harinya terjadi lagi kumpul-kumpul lagi di ruang dan kegiatan yang berbeda. Ngopi AES entah yang ke berapa - pertemuan yang digulirkan lagi atas gagasan dari @sanya. Awalnya kami berbincang tentang bagaimana kita bisa kembali menggairahkan penulisan AES di Ri…

Andy Sutioso33
AtomicEssay

AES178 Tentang Waktu

Sore ini aku ikut dengan beberapa kakak menulis bareng. Seperti biasa, mulai dengan bingung bersama, lalu digagas untuk membuka ririungan dan membaca postingan terkini. Tak pelak, bahwa pak Jo saat ini berada di posisi minus 3 menuju 1000 membuat semua terkejut. “Waah berarti sudah menulis selama 3…

innocentiaine73
AtomicEssay

AES571 Menulis di Bawah Naungan Rembulan

Sore ini saya dan beberapa kakak ngumpul lagi di sebuah tempat ngopi tidak berapa jauh dari Smipa. Ini adalah kali kedua kami mencoba ngumpul untuk menulis bersama. Di luar Smipa - supaya juga berganti suasana - dan mudah-mudahan lebih membangkitkan inspirasi. Ngonongonu kami menyebutnya (Ngopi Non…

Andy Sutioso90