AES029 Klab Menulis Biasa: Menjawab Tantangan Kak Mamat

Sosok tubuh Kak Mamat tetiba lewat di depan enam sosok manusia lainnya yang sedang berdiam (namun jarinya bergerak) di Co-Op. Aku biasanya hanya menulis satu tulisan dalam satu hari itupun tidak rutin karena lebih banyak hari yang aku tidak menulisnya. Sosok Kak Mamat tidak berhenti memandang laptopku karena ia mau memastikan saya sudah membaca tulisan beliau dengan saksama bukan hanya sekilas.
Sebelum sosok Kak Mamat pergi menghantuiku, aku dengan gegabahnya menantang beliau bahwa kami akan membuat Klab Menulis Biasa. Motivasinya hanya untuk menyaingi Klab Kak Mamat yang ia deskripsikan di ririungan sebagai "Bukan Klab Menulis Biasa". Anggota dari Klab Menulis Biasa hanyalah aku seorang diri. Sisanya adalah pengurus dan ketua. Ketuanya pun bisa banyak karena setiap orang di klab ini punya hak untuk memilih siapa ketua yang mau ia pilih.
Maka sosok Kak Mamat menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas berdirinya klab ini. Dimohon jangan lari bila di satu momen ada orang yang datang ke tempat tinggal Kak Mamat untuk meminta pertanggungjawaban atas lahirnya klab ini. Selamat Kak Mamat atas kelahiran klab barunya, semoga klabnya bisa menjadi klab yang sholeh/sholehah, lebih filosofis dari Kak Leo, lebih absurd dari Kak Maul, lebih rajin dari Kak Gina, lebih berjiwa muda dari Kak Shafa, dan lebih petualang dari Kak Tema.
P.S. tulisan ini bersejarah karena demi menjawab tantangan Kak Mamat, untuk pertama kalinya aku menulis dua kali dalam sehari di ririungan ini. Terima kasih Kak Mamat, saya akan balas dendam dengan menantang Kak Mamat menulis lagi.
Komentar (4)
Nah
Teruslah menulis kak, hingga yg kamu kagumi menjadi teman menulismu #ups
Uninterruptible Power Supply
Terima kasih kepada Kak Maul yang sudah mampu mengaplikasikan pembelajaran respon kinetis saat kegiatan View Point.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES187 Mata Ashita Novel
Halo teman-teman yang budiman, seperti beberapa tulisan terakhir yang saya buat, saya banyak menjelaskan proses refleksi selama pengerjaan novel ini. Dari hari-hari yang terasa kosong, dari pikiran yang terlalu ramai, dari pertanyaan tentang sakit, kehilangan, kesepian, sampai harapan yang entah ka…

AES863 Penerimaan Diri
Masih dalam konteks Literasi Diri, lebih luas lagi dalam suasana Festival Literasi yang segera digelar di pekan depan. Festival memang perayaan bersama, sebuah peristiwa kolektif, tapi di sisi lain di sisi dalam diri, apakah kita masing-masing juga merayakan literasi diri kita. Merayakan, mensyukur…

AES774 A Wonderful Gift of Words
Kemarin malam, saya menerima sebuah pesan di chat WA saya. Pesan ini dituliskan terkait hari Ulang Tahun saya. Bagi saya ini hadiah istimewa. Dengan segala hormat kepada pembuatnya - yang tidak akan saya sebutkan di sini, tulisan ini adalah apresiasi terhadap apa yang dihadiahkan kepada saya. Karen…



