AES030 Tua
Hari ini di Basecamp, pagi yang tenang menyapa ketika saya melihat seorang nenek berusia sekitar 70-an sedang berjemur di bawah sinar matahari yang terik. Pemandangan itu sederhana, namun mengundang ingatan tentang nenek saya yang telah berpulang. Dulu dia sering melakukan hal yang sama menikmati hangatnya sinar matahari pagi, seolah-olah itu adalah sumber kekuatan baru yang menyelubungi tubuh rentanya. Dan saat melihat nenek di depan saya hari ini, pikiran saya melayang jauh ke arah renungan tentang usia, tentang menjadi tua, dan tentang kematian.
Menjadi tua adalah sesuatu yang pasti, bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat kita hindari. Kita tumbuh, berkembang, meraih mimpi, hingga akhirnya tiba di fase hidup di mana tubuh tak lagi setangguh dulu. Rambut memutih, kulit berkerut, dan langkah semakin lambat. Meski tak terhindarkan, banyak dari kita sering kali menghindari pikiran tentang menjadi tua. Kita ingin bertahan, tetap muda, bahkan berusaha melawan waktu. Saya sendiri kadang takut mati dan ingin hidup lebih lama, berharap bisa menyingkirkan usia tua dari takdir saya. Tapi kenyataannya, tua dan mati adalah bagian dari siklus alam yang tidak bisa kita hindari.
Nenek yang berjemur di bawah sinar matahari itu seperti nenek saya dahulu, mungkin sudah sepenuhnya berdamai dengan perjalanan hidupnya. Ada sesuatu yang menenangkan dalam cara mereka menerima masa tua seakan mereka memahami bahwa kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan kelanjutan dari kehidupan yang telah mereka jalani dengan baik. Bagi mereka setiap detik adalah kesempatan untuk mensyukuri apa yang masih mereka miliki, meski tubuh tak lagi sekuat masa muda. Saya melihat itu dan perlahan menyadari bahwa menerima tua dan kematian bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan diterima dengan lapang dada.
Tentu, kita semua pernah berpikir tentang keinginan untuk hidup abadi. Tapi bayangkan jika kehidupan ini tak pernah berakhir akankah kita menghargai setiap momen dengan cara yang sama? Mungkin, justru kefanaan hidup inilah yang memberi kita makna. Menjadi tua dan mati adalah bagian dari perjalanan yang melengkapi makna kehidupan itu sendiri. Di saat kita menyadari bahwa waktu kita terbatas, kita mulai benar-benar menghargai setiap momen yang kita miliki.
Pada akhirnya kita semua harus merelakan diri kita menjadi tua, hingga akhirnya ajal menjemput. Tidak ada yang bisa melawan perjalanan waktu, dan tidak ada yang bisa menolak panggilan kematian. Tetapi mungkin itu bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Seperti nenek yang berjemur di bawah sinar matahari, kita harus belajar menikmati setiap momen, menerima proses penuaan, dan mempersiapkan diri untuk ketika saatnya tiba. Sebab hidup dengan segala kefanaannya, adalah sebuah anugerah yang penuh dengan kesempatan untuk menikmati, merasakan, dan merelakan.
Komentar (3)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…




