AtomicEssay

AES031 - catur, rendah hati, dan strategi

Ara Djatipenulis arsip2

Sepulang sekolah, aku melihat beberapa anak SD sedang menyiapkan papan catur. Aku mengajak mereka main bersama. Akhir-akhir ini, kalau ada orang mengeluarkan papan catur, atau main bola, atau main kartu, aku sering ikut bermain. Bermain adalah cara yang bagus untuk bersosialisasi, tanpa harus mengobrol atau kenal dekat: main voli, main bambu, main hockey pakai bola voli dan bambu, main catur. Waktu awal-awal aku belajar catur, aku kepalang sedih ketika kalah. Jadi, agar tidak kalah, aku belajar berbagai rumus dan skenario. Kalau ini begini, artinya begitu, lalu begini-begitu, semua aku coba hafalkan. Ketika main, aku mengikuti rencana yang telah disusun. Kadang aku menang. Seringnya aku kalah.

Itulah masalahnya kalau terlalu banyak memakai teori rencana semata: kita sudah menyiapkan semua sumber daya dan materi. Tapi, apa yang terjadi kalau ada faktor tak terduga? Planning dan backup plan tidak selamanya bisa berguna. Di situlah strategi menjadi penting. Strategi adalah solusi untuk mengatasi situasi mengejutkan. Kita harus bisa reaktif, adaptif. Maka, ketika disajikan dengan hal yang di luar rencana, kita sudah dibekali.

Hari ini aku banyak refleksi tentang kerendahan hati. Masalah ini sudah ada padaku sejak kecil, aku selalu ingin menang dan ingin membuktikan diri. Sampai sekarang juga masih begitu. Akhir-akhir ini, memang banyak momen yang mengingatkanku kembali, termasuk komentar Kak Leo tentang ke-sok-tahu-an kami yang seringkali muncul.

Belajar berstrategi alih-alih bersandar pada rencana, juga bagiku adalah latihan untuk rendah hati. Strategi adalah kemampuan meluangkan diri, pada seluruh kemungkinan yang di luar kendali. Kerendahan hati adalah kemampuan mengakui bahwa kita tidak tahu semuanya. Dua tema besar dalam hariku, saling berhubungan.

Lantas, apa hubungannya dengan catur? Catur menjadi tempatku latihan rendah hati. Ketika aku kalah, aku mencoba tidak melihatnya sebagai kegagalan, tetapi sebagai pembelajaran. Apa saja titik-titik lemahku? Apa yang bisa diperbaiki? Ketika bermain bersama anak SD, aku tidak melihatnya sebagai lomba. Aku mencoba mengajarkan mereka apa saja kemungkinan yang bisa mereka jalani. Mereka seringkali masih terpaut pada rencana. Misalnya, mereka berencana skakmat dengan cara yang sangat spesifik, menggunakan benteng ganda. Aku menunjukkan cara berstrategi: memakai apa yang mereka sudah punya, ratu dan kuda, untuk lebih cepat menskakmat. Bentuk kerendahan hati dalam catur! Tujuan akhirnya adalah skakmat dengan strategi, bukan skakmat dengan bombastis.

Kadang memang berendah hati adalah cara yang lebih baik.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10