AES033 Oh Nasi...

'Kenapa jadi salah nasinya sih?' pertanyaanku itu terlontar di obrolan bersama teman-teman saat sepedaan tadi pagi. Seorang teman memang sedang berusaha menurunkan berat badan, lalu topik seputar makan dan makanan pun jadi bahan pembicaran.
Sebetulnya pertanyaan itupun sudah lama menggangguku, dan aku agak kasihan sama nasi yang jadi kambing hitam, dipersalahkan karena gulanya yang tersembunyi, lalu dijauhi dan seolah jadi punya label yang kurang positif.
Padahal nasi sudah jadi makanan sejak zaman nenek moyang, bahkan seluruh bangsa Asia makan nasi sebagai makanan pokoknya.
Aaah.. Aku jadi teringat sebuah alasan perihal ketidakcocokan orang Asia mengkonsumsi susu. Iklim yang berbeda membuat alam menyediakan sumber pangan yang berbeda bagi orang yang tinggal di dalamnya. Kebiasaan berburu orang-orang di negeri 4 musim tidak dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di iklim tropis. Disebutkan pula bahwa daging dan susu diperlukan bagi mereka untuk menghangatkan badan, oleh karena itu secara genetik mereka memiliki pula kemampuan untuk mencernanya.
Pernyataan itu tentu membawa logika berpikir yang sama, bahwa ada maksudnya juga mengapa nenek moyang kita makan nasi, singkong dan ubi-ubian yang notabene rata-rata karbohidrat. Tuntutan bekerja di sawah atau ladang seharian di bawah terik matahari pastilah jadi salah satu jawabannya.
Dualitas punya kaidah hubungan yang relatif satu sama lain dan berubah-ubah menurut konteksnya. Bahwa baik itu tak selamanya baik dan buruk tak selalu buruk. Bahwa sesuatu yang baik memang bisa jadi buruk dan tentulah begitu pula sebaliknya yang buruk tak selamanya buruk.
Sebuah obyek juga akan selalu terkait dengan subyeknya. Satu pengamatan yang sama perlu dilakukan baik terhadap obyek maupun subyeknya.
Jika obyek lalu berlabel buruk, apakah itu semata-mata karena obyeknya? atau faktor subyeknya? atau mungkin pula atas subyek yang mana?
Atau dengan melihat lebih detail terkait konteksnya, jika nasi = karbohidrat = glukosa berarti kalori, apakah kebutuhan subyeknya seimbang dengan asupan kalorinya? Atau, apakah ada asupan lain yang juga berarti karbohidrat berarti gula dan berarti kalori yang tidak disadari subyek? Misalnya apakah sepiring nasi itu bersama bala-bala, kerupuk, pisang dan es teh manis? Atau misalnya kudapannya roti, kripik singkong dan es boba? dan seterusnya...
Melihat keterhubungan itu seperti menelusuri hingga ke akar permasalahannya. Mencari dasar yang jadi pondasinya. Bahwa makan adalah usaha pemenuhan kebutuhan untuk berlangsungnya kehidupan, dan bahwa makanan adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan itu. Maka sebuah pertanyaan terlontar bagi subyek pelakunya, apakah aktifitas makan itu terjadi sebagai usaha pemenuhan kebutuhan yang mendasar? Ataukah terjadi karena faktor keinginan, hiburan dan yang lainnya?
Melihat ke akar memang merepotkan. Menelisik memang tidak nyaman, tapi untuk berubah hingga berbuah, memang perlu diubah dari dasar berpikir dan cara pandang. Dibongkar dan ditata kembali, karena pondasi yang mantap mampu menyokong apapun hingga kokoh.
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES107 Konstelasi Bintang
Kemarin adalah kelas ketiga dan yang terakhir dari rangkaian kelas daring tentang Human Design. Semalam, sama seperti dua minggu sebelumnya, aku kembali terbangun tengah malam karena pikiranku yang begitu aktif. Selama tertidur, rupanya pikiranku membawa informasi barunya dan diolah di alam bawah s…

AES106 Berkenalan dengan Human Design
"Ga semua orang bisa jadi inisiator, kecuali dia Manifestor" ujar temanku yang sedang serius mendalami Human Design. "Jadi kita ga bisa paksa anak kita untuk bisa punya inisiatif. Ada yang memang butuh diajak kalau tipenya Projector, bahkan kalau dia Reflector, setelah diajak pun dia perlu waktu 28…

AES105 Ambyar
Ambyar, kurang lebih seperti itu gambaran perasaan seseorang saat ekspektasinya berbenturan dengan realita lalu runtuh berserakan. Kemegahan yang terbangun tanpa sadar ketika membayangkan satu situasi dari luar, sirna seketika... seperti menguapnya mimpi begitu mata mulai terbuka. Frustasi, begitu…


