AES034 Gratis

Apa itu gratis, selama ini aku selalu skeptis dengan kata gratis. Tidak ada yang gratis menurutku. Selalu ada pertukaran, apapun bentuknya.
Beli 2 gratis 1. Ini sama saja dengan membeli 1 barang dengan potongan 50% kan, tapi harus beli 2. Gratis ongkir? Tidak ongkos kirimnya diambil dari harga produk yang sudah di mark up. Sudah bukan saatnya bakar uang. Ongkir kita yang tanggung.
Gratis sebelum pukul 10.00. Yap lihatlah antrian yang mengular, antrian paling depan mungkin sudah mengantri dari pagi. Barangnya ditukar dengan 4 jam waktu tunggu.
Menginap 2 malam gratis menginap 1 malam. Lalu diwajibkan tanda tangan mengikuti presentasi selama 6 jam bersama pasangan, pada saat peak hour. Sama saja menginap 2 malam jatuhnya, seharinya lagi tidak dihitung liburan.
Gratis lap kaca anti air, setelah itu ditahan 5 menit untuk menjelaskan produk, ujung-ujungnya tawaran membeli produk.
Gratis apanya. Kebanyakan memang trik marketing. Akan kutolak dengan wajah datar saat ada yang datang menawarkan sesuatu yang gratisan. Tidak terima kasih.
Tapi apa ada yang benar-benar gratis?
Teringat pada seorang rekan orang tua, senang sekali berbagi makanan. Dibagikan saja, gratis, dibayar pun tidak mau pasti menolak. Kalau begitu penukarannya apa kira-kira? Sepertinya ditukar kebahagiaan. Kata orang, orang yang suka memberi senang merasakan kebahagiaan saat memberi, saat berbagi apa yang mereka punya. Tulus, ikhlas, tidak mengharapkan apapun saat memberi. Ditukar dengan rasa bahagia untuk diri sendiri.
Tapi kita manusia yang separuh kesadarannya hilang ini ya begitu, hubungan sesama manusia dianggap transaksional, setiap pemberian ada timbal balik, kalau ada orang baik bawaannya curiga, bahasa gaulnya suudzon.
Padahal masih banyak orang-orang baik yang tulus, niat datang ke kehidupan kita untuk menolong.
Tanpa pamrih, tanpa syarat semata-mata hanya untuk memberi. Apakah kita perlu membalas kebaikannya? Sebenarnya bukan kewajiban tapi saat ada kesempatan untuk membalas kebaikan orang lain dan dapat bonus membahagiakan diri sendiri kenapa tidak?
Ada rasa tidak nyaman saat tidak membalas kebaikan seseorang bukan? Tentu, sebagai makhluk sosial yang dianugerahi nurani pasti akan ada niat untuk membalas kebaikan seseorang. Maka dari itu kebaikan pun menular, sadar nikmat bahagia saat memberi dirasakan, rasanya sayang untuk diakhiri. Pasti akan dilakukan lagi, menularkan kebaikan. Gratis.
Komentar (3)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…


