AES035 Jodoh (2)
Mega1
Tulisan ini tidak berhubungan dengan tulisan di AES034 beberapa hari lalu yang berjudul sama. Hanya sekadar pengingat kecil, bahwa Semesta kadang berkerja dengan caranya tanpa kita sadari. Haha... sebelum dilanjutkan, ini hanya cerita receh tidak penting yang terus-menerus minta dituliskan, bukan tentang filosofi hidup yang dalam dan berat.
Begini ceritanya. Minggu lalu aku ingin membeli stroberi dari sebuah toko di market place. Iya, sejak pandemi semua kebutuhan rumah jadi bisa dibeli secara online. Ini sangat menyingkat waktu, meskipun aku sadar akan ada kemasan tidak perlu yang datang bersama pesanan kita. Sebisa mungkin aku berusaha mengolahnya, supaya tidak berakhir di TPA. Bukan pembenaran, tapi memang begitulah adanya. Nah, toko itu juga menjual alpukat. Setelah membaca review pembeli, aku memutuskan untuk mencoba membeli 1 kg. Cukup sering aku membeli buah di toko itu, biasanya kualitasnya selalu bagus dan harganya cukup bersahabat. Ternyata si penjual mengirimkan chat, alpukat sedang kosong. Jadilah pesanan itu dibatalkan dan aku pesan ulang tanpa alpukat.
Kemarin, aku mampir ke sebuah kios bernama Saung Pisang sambil menunggu si bungsu les di dekat situ. Saung Pisang ini meskipun namanya menjurus pada satu jenis buah, tapi menjual berbagai keperluan sehari-hari, mulai dari buah, sayur, daging, sampai sabun dan teman-temannya. Seperti mini market kecil. Tujuanku membeli pisang dan mangga, tetapi tumpukan alpukat yang ranum di sebelahnya begitu menggodaku. Kulitnya hijau mulus dan mengkilat. Tidak murah harganya, 60 ribu sekilo. Alpukat muria, menurut sang penjual. Hmmm... mengingat bahwa membeli alpukat itu seperti membeli kucing dalam karung, aku mengurungkan niatku. Pasalnya, tidak ada alpukat yang menunjukkan tanda-tanda akan matang dan menurut pengalaman, sangat riskan membeli alpukat yang masih keras. Kita tidak tahu akan matang dan bisa dimakan atau tidak, meskipun mungkin buahnya bagus. Berbagai tips menjadikan alpukat mengkal layak makan sudah kuikuti, tapi tidak ada yang secara konsisten berhasil. Bahkan, pernah terdengar gurauan: 'alpukat mah seperti cewek, hanya dia dan Tuhan yang tahu isi (hati)-nya!' Hehehe... Jadilah aku pulang membawa pisang, mangga, dan pepaya saja.
Sorenya saat ngopi, ada chat WA masuk. Dari tetangga lingkungan, menawarkan alpukat dari pohonnya. Aha, aku seperti mendapat durian runtuh! Alpukat dari pohon milik Bu Ning –nama ibu itu– selalu jadi jaminan mutu. Buahnya besar-besar, dagingnya tebal berwarna kuning cerah dibingkai hijau tua. Rasanya? Wah, tidak ada lawan! Kesat tapi creamy, dan sangat mengenyangkan. Bertahun-tahun kami menjadi pembeli setianya. Dan alpukat Bu Ning ini berbuah pada waktu-waktu yang tidak pasti. Bisa di bulan Desember, April, atau seperti saat ini, di pengujung Agustus. O ya, karena Bu Ning hanya menjualnya untuk kalangan terbatas dan tidak untuk mencari untung, ia hanya membanderolnya 40 ribu per kg! Padahal, jika dijual di luaran bisa dihargai 60 ribu/kg.
Begitulah cerita tentang perjodohanku dengan alpukat Bu Ning, alpukat yang selalu kami sekeluarga nantikan sepanjang tahun. Terjadi setelah beberapa kali urung membeli alpukat, seperti ada yang mengaturnya. Inilah jodoh: the right thing in the right place, at the right time.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES055 Mangga dan Bapak-Bapak
Hari ini ada pemandangan istimewa di area parkiran sekolah kita. Seorang bapak sedang memanjat pohon mangga golek yang terletak di dekat kantor. Tiga orang bapak yang lain sedang menunggu di bawah. 😄Sebelumnya, saat aku memutar mobil mencari tempat parkir yang kosong, dua orang bapak sedang berbag…
Mega52
AES054 Menua Bersama
Tahun ini merupakan tahun yang sangat istimewa bagiku, seiring dengan kehadiran dekade baru dalam hidupku. Ya, hampir semua teman seangkatan, baik teman sekolah maupun kuliah, di beberapa grup WA yang kuikuti, juga memasuki tahapan yang kami sebut golden age. Selain pertambahan usia baru, yang memb…
Mega53
AES053 Learn, Unlearn, Relearn (3)
Akhir 2024 kemarin aku berkesempatan naik kereta jarak jauh, Bandung - Malang, selama 13 jam. Ini kali pertama setelah lebih dari 20 tahun lalu aku tidak pernah berkendara selama itu menggunakan kereta api. Tentu, banyak sekali perubahan yang kurasakan. Kulihat, KAI banyak berbenah diri. Gerbong ke…
Mega23