AtomicEssay

AES039 - beauty is in the eye of the beholder

Ara Djatipenulis arsip2

Dalam sekian detik sempurna, ketika matahari terbit bersinar di balik cekungan gunung, cahayanya keemasan menyentuh embun dan gelap subuh, apakah itu seni? Kerutan di wajah seorang pedagang sapu tua, puluhan tahun senang dan sedih, apakah itu seni? Pendaran terakhir bara sebelum berubah jadi abu, apakah itu seni?

Menurut kamus Oxford, seni adalah “ekspresi atau aplikasi kemampuan kreatif dan imajinatif manusia, dalam bentuk yang bisa diapresiasi biasanya atas dasar keindahan dan kekuatan emosional”. Menurut KBBI, seni adalah “keahlian membuat karya yang bermutu”.

Semua definisi ini tampak begitu berfokus pada hasilnya, memang benar, kalau kita berbicara tentang karya seni. Tapi apa itu seni sendiri? Apa itu estetika? Apa yang membedakan sesuatu yang menunjukkan emosi, dan yang bukan? Bukankah suatu hal bisa tampak begitu berbeda ketika dilihat lewat mata yang berbeda, atau bahkan, tidak dilihat sama sekali?

Tidak semua kultur di dunia melihat warna dengan cara yang sama. Suku-suku di Papua Nugini hanya memberi nama pada warna hitam, putih, dan merah. Dalam Bahasa Rusia, biru gelap dan biru muda dianggap sebagai dua warna yang berbeda. Hanya lewat warna saja, sudah begitu beda cara-cara orang melihat dunia. Apalagi untuk hal-hal yang lebih luas seperti seni. Sesuatu yang dianggap satu orang sebagai produk seni, dianggap satu orang memiliki makna, belum tentu akan dianggap yang sama oleh orang lain. Maka, apa itu sesungguhnya produk seni? Apa yang membuat suatu lukisan lebih cantik dari yang lain, sebuah tulisan lebih menggugah dari lain? Kenapa tidak ada museum untuk memajang momen-momen: cangkir kopi hangat, tetesan terakhir hujan.

Bagaimana kalau yang sebenarnya seni bukanlah produknya, tapi sudut pandangnya? Itulah kenapa hal-hal paling sederhana bisa jadi seni: matahari, waktu, bara. Yang membuat sesuatu menjadi seni bukanlah emosinya, bukanlah produknya, bukanlah bentuknya, tetapi persepsi kita atasnya. Apapun bisa menjadi seni kalau kita melihatnya dari lensa yang pas.

Komentar (4)

Andy Sutioso

Keren Ara. Asik baca esainya. Cara penulisan dan sudut pandangnya asik.

Ara Djati

terima kasih Kakk

mmatheusaribowo

Menyenangkan sekali membaca tulisan ini. Keren Ara! Semoga uban yg tak tumbuh beraturan juga bisa menjadi sebuah "seni", ya.

Ara Djati

makasih Kak! bisa lahh jadi seni hehe

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10