AtomicEssay

AES042 Impatient

Sanyapenulis arsip2

Aktivitas sehari-hariku dulu serba cepat, semua berlomba dengan waktu. Cepat, cepat, cepat. Mengerjakan sesuatu dengan cepat, makan cepat, mandi cepat, memang dulu semua berjalan cepat karena waktu istirahat yang begitu sempit dan tidak menentu. Semua hal harus dilakukan dengan cepat.

Kebiasaan serba cepat ini terbawa ke rumah. Sampai Fajrin komentar, “Ibu ini sat set banget mau kemana sih?” Hmm leha-leha bukan jalan ninjaku. Tapi ternyata ini ada dampak negatifnya.

Setelah berhenti kerja semua terasa berjalan lambat. Waktu berjalan lambat. Semua tugasku sudah aku kerjakan, tapi hari masih panjang. Kebiasaan ini membuatku stres.

Melihat anak-anak yang makan dengan santai, mandi berlama-lama, bersiap dengan pelan, mengerjakan tugas bermenit-menit, membuatku frustasi. Kenapa mereka selambat itu? Tanpa disadari aku akan berucap, “Ayo cepat!”. Inilah dosaku, dibayar kontan saat ini.

Sei kurang sabar, mudah putus asa, cemas, terburu-buru saat mengerjakan tugas, tugas yang diberikan tidak dikerjakan dengan tuntas. Adik juga terkena imbasnya, susah makan perlu dampingan terapis untuk memperbaikinya.

Saat anak masih dalam masa tumbuh kembang tidak ada cerita anak gagal, yang ada orang tua gagal. Gagal memberikan contoh baik, gagal mengajarkan hal baik, gagal menjadi role model yang baik.

Menyadari kesalahanku, aku belajar melambat belajar mengikuti pace anak-anak, belajar menikmati setiap kegiatan. Mereka bukan orang dewasa. Bukan salah mereka, mereka seperti itu karena masih berproses. Itulah cara mereka mempelajari kehidupan. Merasakan hal dengan semua inderanya. Tenang tidak terburu-buru.

Memasak yang dulu menjadi kegiatan melepas stres sekarang kunikmati langkah-langkahnya.

Makan yang dulu sekedar mengisi perut sekarang kucicipi rasanya, aromanya, mengunyah dengan rasa syukur.

Mandi yang dulu menjadi kewajiban pagi hari sekarang kulit kugosok perlahan cium aroma sabunnya, rambut kubersihkan sambil kurasakan air hangat mengalir menenangkan tubuh.

Menyetir yang dulu melelahkan sekarang menjadi waktu me time sambil bernyanyi.

Saat sedang bersama kami lakukan kegiatan dengan santai, kami nikmati prosesnya. Kami mencoba mewarnai, menjahit, membaca bersama. Kegiatan yang membutuhkan waktu panjang sambil mengasah keterampilan.

Perubahan ini rupanya berdampak baik pada anak-anak yang melihat dan ikut mencontoh. Sekarang kata-kata “Ayo cepat” menjadi kata terlarang untukku, kata-kata “Lakukan dengan hati gembira” menjadi motivasi untuk kami, yang sama-sama sedang berproses.

Komentar (2)

joefelus

Setuju! It's better to go slow in the right direction than go fast in the wrong direction.:)

Sanya

Betul pak Joe tidak semuanya perlu cepat, kadang lebih baik lambat seperti lihat proses anak2 tumbuh ini

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES158 Santai

Bukan kebetulan. Katanya memang semua sudah terencana apik. Saking halusnya sampai terlihat seperti sebuah kebetulan. Ternyata sudah tepat 6 bulan aku terakhir menulis. Waktu itu juga sedang santai, pagi menjelang siang saat rutin pagiku sudah selesai dan entah kenapa rasanya santai. Aku mulai memb…

Sanya32
AtomicEssay

AES157 Januari

Akhir-akhir ini cuaca memang syahdu. Suhu udara menurun, angin mengencang, hujan menderas dan langit menggelap. Matahari yang sebelumnya terasa terik dan perkasa perlahan melembut bersembunyi di balik awan tebal yang siap menghadang cahayanya seakan berujar, “Seterang apapun cahayamu ada saatnya ka…

Sanya21
AtomicEssay

AES156 Hujan

Sudah beberapa hari belakangan siang menjelang sore, cahaya cerah matahari perlahan tertutup awan. Lewat tengah hari hawa menjadi lebih dingin, langit kelabu, seakan sore datang lebih cepat. Tak berapa lama hujan datang, intensitas nya tak menentu bisa gerimis kecil atau hujan lebat. Aku sudah lama…

Sanya20