AtomicEssay

AES042 - (pem)bangunan (ber)ke(lan)jutan

Ara Djatipenulis arsip2

Beberapa hari terakhir, aku banyak main Tetris. Lama-kelamaan, aku belajar berpikir cepat. Tetris bukan sesederhana memasukkan balok: aku juga harus berstrategi, berpikir untuk masa depan. Gerakan apa saja yang akan paling sustainable?

Aku pertama kali belajar tentang pembangunan berkelanjutan di sebuah pagi yang mendung, dengan lampu remang-remang, duduk di ruangan K8. Buku catatanku penuh dengan tulisan berantakan dan terburu-buru, berusaha mencatat seluruh tujuh belas poin SDGs. Semua ini tampak seperti konsep yang begitu rumit, begitu sulit digapai. Terbayang sebuah dunia ideal yang memenuhi seluruh poin-poin ini: terasa terlalu idilik, terlalu ambisius.

Kalau berhadapan dengan sesuatu yang membuatku merasa seperti itu – pusing, jauh – aku selalu mencoba menerjemahkannya menjadi sesuatu yang lebih kecil dan sehari-hari. Maka, waktu itu, aku mencoba juga untuk membayangkan ketujuh belas poin SDGs dalam keseharianku. Apakah semuanya sudah kumiliki, sudah bisa kucontreng? Kubayangkan kotak-kotak berwarna itu, menyilang semua yang sudah kumiliki di lingkungan terdekatku. Semuanya tersilang. Aku tak perlu banyak berusaha, dan 17 poin SDGs sudah dengan mudah terpenuhi dalam hidupku, sangat beruntung.

Tapi, masih ada satu hal yang belum bisa dengan yakin kucontreng: sustainable, berkelanjutan.

Di dekat rumahku, ada perumahan baru yang sedang dibangun. Taman-taman di pinggir trotoarnya ditanami tanaman hias yang indah. Jalanannya putih terang, dari semen. Kampung perumahan warga di sekitarnya, ditutupi tembok kelabu polos. Sepanjang jalan, sungai deras mengalir, tak dipagari. Memang sekilas komplek ini terlihat indah. Tapi setelah ditelisik lebih dalam, apakah berkelanjutan?

Tanaman hias tidak akan menyejukkan, tidak banyak berguna selain enak dipandang. Kenapa tidak menanam pohon mangga, pohon lokal yang rimbun, dibanding pohon cemara? Kenapa jalanannya harus putih terang, padahal menghadap persis ke Timur? Pagi-pagi akan luar biasa menyilaukan. Kenapa kampung warga, yang sudah ada bertahun-tahun ada, harus dikepinggirkan dan disembunyikan? Kenapa tiba-tiba, tanpa peringatan, muncul sebuah bangunan kejutan yang berdinding besi? Bukankah akan luar biasa panas di bawah paparan matahari?

Aku pertama kali belajar tentang bangunan berkelanjutan di sebuah siang yang terik, di kelas online untuk ujian kelulusan K6. Kami harus mempertimbangkan betul-betul tiap aspek dari maket yang kami rancang untuk asesmen praktik. Di situ, aku benar-benar belajar pentingnya berpikir untuk masa depan. Main catur, main Tetris, menulis, belajar… semua itu akan jauh lebih berfaedah ke depannya kalau kita mempertimbangkan sustainabilitas.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10