AES045 - kita abadi

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
– Yang Fana Adalah Waktu, Sapardi Djoko Damono, 1978
Aku berdiri di atas bebatuan yang kasar, air laut pasang-surut membelai kakiku, bercampur dengan sedikit darahku hasil baretan batu tajam. Semua air yang ada di bumi itu sudah ada sejak pertama bumi terbentuk. Indah membayangkan setetes diriku berbaur dengan itu, meninggalkan jejak. Dari dulu aku selalu ingin meninggalkan jejak. Diingat. Abadi.
Tapi apa itu keabadian? Bukankah sesungguhnya, suatu hari, akan ada akhir dari semuanya? Ketika seluruh atom dalam semesta terpecah (katanya namanya The Big Rip), ketika konsep waktu dan tempat sebagaimana kita ketahui rubuh, ketika jantung dunia berhenti berdetak. Apakah energi benar-benar kekal? Apakah waktu benar-benar kekal? Apakah ada yang benar-benar kekal? Atau apakah semesta hanya satu keseluruhan, yang selalu berubah bentuk, selalu kekal? Memang apa pengaruhnya pada keabadian? Apa pengaruhnya pada kita?
Waktu itu, di tengah pasang-surut air laut, aku berpikir tentang kefanaan. Bahwa aku begitu kecil di semesta, begitu tak berjejak. Tapi juga bahwa, di saat yang sama, aku sangat berjejak. Jejakku kecil, karena aku juga kecil, dan memang aku tak perlu ribut menuntut jejak yang besar. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono banyak sekali yang membahas tentang keabadian, atau lebih tepatnya, persepsi manusia akan keabadian.
Manusia bisa hidup selamanya dalam kenangan, dalam kisah. Kita bisa melihat titik-titik hidup kita dan mengabadikannya sendiri. Bisa lewat seni, lewat inovasi. Tapi tidak perlu hebat-hebat. Kita hanya perlu mengingat terus: debur ombak, tawa di bawah bulan purnama, tetesan embun yang menyisa hingga larut siang. Dan dengan begitu, bagi kita, semua hal itu bisa abadi. Setelah ombak surut, setelah tawa memudar, setelah embun menguap, semuanya masih ada. Yang fana adalah waktu. Kita abadi.
Komentar (4)
Waaah keren amat ini... terima kasih banyak Ara...
terima kasih sudah membaca Kakk
indah sekali penuturannya. Mengajak merenung selembut belai pasir.
wah terima kasih Kak!
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

