Atomic Essay

AES046_Ngalor Ngidul

Tatha Wupenulis arsip2

Aku pernah bilang ke beberapa temanku di Bandung, bahwa nanti saat aku pulang dari Temanggung, sepertinya akan menjadi Jawa (ngomong bahasa Jawa campur Indonesia) dengan nada bercanda. Tapi sekarang saat sudah di Temanggung, aku jadi mikir lagi, apakah benar-benar bisa bahasa Jawa nantinya? Soalnya mendengar obrolan warga disini saja sudah membingungkan, aku hanya paham sedikit dari Bahasa Jawa, itu pun Jawa yang bahasa sehari-hari. 

Walaupun Mamah ku itu orang Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. Aku tidak bisa bahasa Jawa dengan baik dan lancar, mungkin karena aku lahir dan tumbuh di Bandung. Tapi ga juga sih, karena aku pun tidak terlalu bisa Bahasa Sunda, walaupun sudah hampir 17 tahun tinggal di Bandung. 

Kemarin kami sempat iseng datang ke Posyandu disini, karena ada pengumuman bahwa ada pengecekan kesehatan rutin sebulan sekali tiap hari Sabtu. Karena di komplek & daerah rumah kami masing-masing tidak ada Posyandu (atau kami memang belum tau). Saat kami datang ada beberapa ibu-ibu sedang mengobrol, tapi mereka menyempatkan diri untuk menyambut tamu yang datang, walaupun obrolan mereka sedang asik. Kalau dari yang aku dengar dan paham, mereka sedang membahas tentang caranya agar tidak punya anak lagi. Hmmm, aku ga berani deh bahas lanjut tentang ini . Untungnya aku tidak terlalu paham, karena mereka menggunakan Bahasa Jawa yang halus. Dan mereka juga beruntung tidak ada yang paham betul apa yang dibahas, wkwkwkwk. Singkat cerita kita cuman sekedar berkenalan dan mencoba untuk menebak mereka bahas apa, lalu sesudah itu kami pun pulang ke rumah. 

Di Jawa Tengah itu unik yah, dari cara ngomong, logat khas yang medhok, dan juga orang-orangnya yang ramah. Ada satu hal yang paling unik buat aku, cara mereka menunjukkan arah suatu tempat. Ada yang bilang “nganan ngiri (kanan kiri)", ada yang pakai arah mata angin. Lor = Utara, Kidul = Selatan, Wetan = Timur, Kulon = Barat. Contohnya kemarin saat kita menanyakan salah satu rumah warga yang ingin kami datangi kapan-kapan, tetangga yang kami tanya jawab begini " Oh itu omahne ning Kulon iku toh, dari sini nganan tok, terus lurus wae” (translate: Oh rumahnya itu di Barat, dari sini belok ke kanan, terus lurus aja). Aku ngerti sih artinya, cuman kalau usah pake arah mata angin, bentarrrrr, Kulon itu Barat atau apa yak. 

Untungnya rata-rata warga sini bisa bahasa Indonesia dengan baik, kalau secara logika harusnya bisa karena mereka sering kedatangan mahasiswa-mahasiswi dari UMN. Intinya, Jawa Jawa Jawa (bangga maksudnya).

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Atomic Essay

AES047_Santai Aja

Hmmmm, tiba-tiba aku mau menceritakan apa sih yang aku rasakan dari awal ke Temanggung hingga sekarang, saat sudah mendekati waktu pulang. Kalau hidup di kota dan desa dibandingkan, wooooaaaww sangat sangat beda. Pertama tentunya dari sisi lingkungan, di kota banyak gedung-gedung tinggi, di desa ha…

Tatha Wu10
Atomic Essay

AES045_AFK 30 Hari Dari Bandung

Setelah yang kami kelas 11 Sasando akhirnya datang, penjelajahan ke Desa Ngadimulyo, Dusun Ngadiprono, Temanggung. Setelah berbagai proses yang kami telah siapkan, dari yang awalnya kami akan ke Bangka Belitung, Timor, dan kami pilih Temanggung. Kami berangkat dari halte Cicaheum jam 17:00, tanggal…

Tatha Wu10
Atomic Essay

AES20: Perjalanan Berangkat dan Hari-Hari Lambat

Tahukah kamu, mengapa perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada berangkat? Itu karena fenomena psikologis yang disebut sebagai return trip effect, di mana otak kita sudah familiar dengan rute perjalanan sehingga tidak perlu bekerja keras memproses informasi baru Prinsip yang sama bekerja saat k…

Farzan61