AES046 - Optogram: Merekam dengan Tubuh

Di tahun 1800an akhir, bermunculan banyak informasi tentang optografi, metode “memotret” dengan retina. Katanya, hal terakhir yang ditangkap retina sebelum pemiliknya meninggal, bisa saja di-develop layaknya kamera analog. Hal ini dianggap memukau, karena bisa membantu dalam banyak hal. Kalau ada kasus pembunuhan, kita jadi punya akses pada hal terakhir yang dilihat korban.
Rupanya, dalam retina, ada sebuah pigmen bernama rhodopsin. Pigmen ini menjadi putih ketika terkena cahaya, tapi di dalam gelap, bisa kembali menjadi warna keunguan. Ketika retina direndam di dalam larutan alum, rhodopsin itu akan membeku dan bisa dipotret. Alhasil, jadilah sebuah foto-retina! Prosedur ini pertama kali dilakukan pada tahun 1876 oleh Wilhelm Friedrich Kühne menggunakan retina seekor kelinci.
Meskipun hal ini luar biasa menarik, sayangnya, tidak banyak pembuktian sains yang bisa ditemukan di baliknya. Optografi tidak selalu bisa berhasil, dan tidak bisa dibuktikan terpercaya. Namun, ketika aku pertama kali mendengar tentang ini, aku jadi tertarik. Apa saja kejadian non-fisik yang bisa direkam oleh tubuh kita, secara fisik? Dengan teknologi yang kini kita miliki (yang jauh lebih terpercaya dibandingkan optografi), ilmuwan bisa mencari tahu begitu banyak tentang dunia. Sebab, memang ada bekas-bekas fisik dari segala hal yang kita lakukan, bahkan ketika tubuh sudah lama mati.
Ötzi, seorang pria berusia 5000 tahun yang ditemukan di pegunungan Italia, adalah contoh. Dia ditemukan dengan kondisi tubuh yang terpreservasi dengan baik oleh es. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika aku pertama mengetahui tentangnya, ilmuwan hanya bisa tahu bahwa dia sempat tertusuk anak panah di bahu kanannya. Kini, sudah ada banyak informasi baru: kita tahu dia terakhir makan apa, wajahnya kira-kira seperti apa. Kita bisa membentuk naratif berdasarkan hal-hal yang kita amati darinya. Menurut ilmuwan, dia sepertinya seorang buronan. Ketika dia meninggal, dia tampaknya sedang dalam pelarian, berdasarkan nutrisinya yang kurang. Dari bekas anak panah di bahunya, kita tahu bahwa dia akhirnya sempat tertangkap oleh siapapun itu yang mengejarnya. Kemungkinan panah inilah yang membuatnya kehilangan darah dan meninggal.
Kita bisa merekam dengan banyak hal: foto, kenangan, kisah. Tapi, lebih dari itu, alam juga punya cara untuk merekam.
Inspirasi
https://www.aao.org/museum-blog/detail/retinal-optography-fact-fiction
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
