AtomicEssay

AES047 - empat kaki mungil

Ara Djatipenulis arsip2

Di Anak Tangga di Sudut Terluar GOR Saparua, duduk seorang ibu-ibu. Di sela-sela menyapu, ketika tidak ada kerjaan lain, dia duduk di situ sambil memandang ke arah semak-semak. Dan di dalam semak-semak itu, melompat-lompat dengan riang, ada seekor anak kucing.

 Bulunya putih, ekor dan kakinya berbelang hitam. Dia masih kecil sekali, mungkin baru lahir sebulan lebih yang lalu. Tubuhnya kurus dan ringan, seperti kucing jalanan pada umumnya. Matanya kuning-kehijauan, belum sepenuhnya berubah menjadi warna dewasanya, dan berair. Sepertinya kucing jalanan, terutama anak kucing, memang rawan matanya infeksi seperti ini. Tapi kucing ini matanya tidak tampak begitu kotor, terlihat seperti sudah dibersihkan.

 Anak kucing itu hanya memandang ketika didekati. Lalu, dia melompat-lompat ke arah tempat ibu-ibu itu duduk. Dia melompat-lompat menaiki anak tangga, melompat-lompat minta dibelai. Si kucing menatap penasaran kepada tiap-tiap pejalan kaki yang lewat, tapi dia selalu kembali ke sisinya. Kata ibu itu, namanya Ciko. Dia ditemukan di pinggir jalan, tanpa ibu, sepertinya ada yang membuang. Jadi sehari-hari dia menemani si ibu, mengikutinya ke mana-mana, atau mungkin sebaliknya, atau mungkin memang selalu bersama. Waktu baru ditemukan, matanya sangat berair dan kotor, tapi dibersihkan.

 Selama kami di Saparua, setiap kali melewati Anak Tangga di Sudut Terluar, selalu ada gumpalan bulu putih kecil yang melompat-lompat riang di dalam semak, menyelusuri trotoar. Sepasang mata kuning-kehijauan, sedikit berair, memandang penasaran pada dunia di sekitar. Empat kaki mungil berlari-lari kecil, selalu kembali ke sisi ibu itu. Si Ciko adalah kucing yang bahagia. Dia tidak butuh makanan kucing mahalan, bantal empuk untuk tidur. Dia butuh belaian dari tangan yang bekerja keras, butuh semak-semak tempat bersembunyi. Suatu hari, empat kakinya yang mungil dan lembut akan menjadi kaki yang kuat dan kasar, seperti kucing jalanan biasanya. Dia akan berlari-lari di tengah hiruk-pikuk mobil-motor, mencari makan di tengah trotoar dan selokan. Mungkin kalau kita bandingkan dengan kucing rumah, terasa seperti hidup yang seram dan kasihan. Tapi Ciko bahagia. Ibu, nenek, buyut Ciko bahagia. Inilah satu-satunya yang dia kenal, dan dia bahagia.

fotonya tidak jelas tapi itu ada ciko yang putih-putih dekat semak

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10