AES049 - Geoengineering, Manusia, dan Bumi

Hari ini, aku menonton beberapa video mengenai konsep yang baru untukku: geoengineering. Geoengineering adalah intervensi buatan dalam skala planet terhadap atmosfer, tanah, atau laut, yang memberi dampak pada iklim bumi. Dengan banyaknya emisi karbon dioksida dalam abad terakhir, kita sudah secara tak sengaja melakukan geoengineering. Sekarang ilmuwan sedang mempertimbangkan melakukannya lagi, untuk membantu meminimalisir dampak buruk yang memicu pemanasan global.
Setelah ledakan Krakatau di tahun 1883 (hmhm spoiler musikal), teramati ada penurunan suhu bumi yang cukup signifikan. Ledakan-ledakan gunung lain juga banyak menurunkan suhu. Ini karena asam sulfur di dalam asap gunung berapi itu bisa tertahan di dalam stratosfer, lalu memantulkan radiasi matahari, sehingga mengurangi panas yang terkena kita. Ilmuwan mencari cara untuk mereplikasi hal ini: bisa dengan mengecat atap bangunan jadi putih, atau membuat awan menjadi lebih putih, atau memasang awan asam sulfur buatan, atau mengirimkan panel reflektif ke luar angkasa…
Hal ini terlihat seperti solusi yang begitu keren, tapi ada banyak juga kekhawatiran. Bumi itu sangat mudah terganggu keseimbangannya. Kalau satu hal kecil berubah, bisa satu-persatu memberi dampak pada sistem bumi. Apalagi kalau perubahannya sesuatu sebesar ini. Bahkan dengan menggunakan bantuan teknologi modern untuk memperhitungkan hal-hal ini, kita masih belum bisa yakin dan akurat. Risk-nya terlalu besar, dampaknya terlalu luas. Bagiku, ada juga pertimbangan moral.
Apakah ini memang langkah yang paling bijak? Apakah manusia punya hak mengubah-ubah planet kita sebanyak ini? Atau apakah kita memang harus memperbaiki seluruh masalah yang sudah kita buat? Apakah memperbaiki caranya harus seperti ini? Apa garis batasan antara ‘merelakan’ dan ‘pasrah’ dan ‘tidak peduli’ dan ‘takut dan melupakan’? Kurasa salah satu kemauan sentral manusia adalah untuk mengetahui segalanya, menjadi segalanya. Banyak dampak baiknya bagi spesies kita, tapi juga banyak timbal balik buruknya.
Inspirasi:
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
