AES05: Partisipasi Tanpa Pamrih
Menurut definisi, partisipasi adalah keterlibatan seseorang dalam situasi baik secara mental, pikiran atau emosi yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan dalam upaya untuk memberikan sumbangan dalam usaha mencapai tujuan. Partisipasi merupakan sikap mendedikasikan diri untuk tujuan yang lebih besar, dan mengambil bagian di dalam pelaksanaannya.
Dalam persepsi budaya modern, sikap tidak mementingkan diri sendiri atau tanpa pamrih acap kali diasosiasikan sebagai salah satu aspek heroik. Yang menurutku menarik, berhubung internet dan budaya sosial kita lama kelamaan membuat kita semakin terisolir dengan satu sama lain. Mungkin, semakin jarang kita menjumpai sikap tertentu, kita juga semakin memuliakan sikap tersebut.
Umumnya, ide dan pemikiran dari zaman tertentu bisa terefleksi lewat media yang ke luar di waktu tersebut. Tidak terkecuali untuk saat ini. Banyak media dan cerita fiksi yang merepresentasikan karakter utama sebagai orang yang peduli pada sekitar dan rela mengorbankan diri untuk kepentingan sekitar.
Hal itu direfleksikan oleh salah satu film yang kelas 10 tonton kemarin. Tokoh utamanya merupakan seorang gadis yang membuat orang-orang takut dan acap kali dituduh sebagai penyihir. Tapi, semesta mencapnya sebagai pribadi yang ‘baik’. Menurutku, hal itu terjadi karena dia peduli pada orang-orang dekatnya dan menginginkan yang terbaik untuk mereka. Kontras dengan temannya, yang tampaknya merupakan putri ideal, tapi hanya mementingkan dirinya sendiri. Alhasil, dia dicap sebagai orang buruk.
Kunci utama dalam berpartisipasi adalah kepedulian. Tanpa itu, pintu hati kita akan tertutup dari segala keinginan untuk berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari kita. Kalau kita bisa hidup damai sendiri-sendiri, kenapa butuh repot-repot? Tapi sebaliknya, jika peduli, orang-orang bisa berkumpul untuk meratakan gunung atau menggapai langit- bersama-sama.
Dan, sesungguhnya; itulah hakikat manusia yang sebenarnya: bersama-sama. Untuk saling peduli dan saling jaga.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES20: Perjalanan Berangkat dan Hari-Hari Lambat
Tahukah kamu, mengapa perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada berangkat? Itu karena fenomena psikologis yang disebut sebagai return trip effect, di mana otak kita sudah familiar dengan rute perjalanan sehingga tidak perlu bekerja keras memproses informasi baru Prinsip yang sama bekerja saat k…
Farzan61
AES21- Hidup Untuk Hidup: Pemaknaan Film Perfect Days
Film Perfect Days merupakan film yang lambat, datar dan- bahkan- membosankan. Film itu bercerita mengenai keseharian seorang pembersih toilet sederhana bernama Hirayama saat dia bertugas membersihkan toilet dengan telaten, membantu orang-orang, dan berurusan dengan rekan kerja yang menyebalkan. Dia…
Farzan10
AES20- Tentang Waktu, Motor, dan Produktivitas
Saat kamu menyadari waktu yang berlalu, setiap detik selalu terasa seperti menetes terbuang dari tangkupan tanganmu, dan tiba-tiba harimu di masa-masa remaja tinggal hitungan jari. Aku belum ingin dewasa! Aku merasa aku belum cukup bijak dan pemberani untuk menantang dunia, dan aku jelas-jelas belu…
Farzan10