Atomicessaysmipa

AES05 Sekolah Orangtua

melissatuanakottapenulis arsip3

Saat masih melajang, begitu banyak pertanyaan seperti, "Kapan nikah?" berdatangan. Begitu menikah, pertanyaan selanjutnya pun datang, "Kapan punya anak?" Setelah punyak anak satu, maka datang lagi pertanyaan, "Kapan, nih, punya adik untuk si kecil?"

Ya, pertanyaan yang tak kunjung usai. Tidak sedikit yang terjebak dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kemudian menjawabnya dengan sebuah pembuktian untuk memuaskan si penanya, sampai lupa bersiap diri.

Seperti apa yang dikatakan Ruby pada quotes di atas, menjadi seorang ibu (orangtua) itu susah, tidak ada pelajaran untuk mempelajari bagaimana menjadi orangtua.

Saat anak lahir dia ibarat sebuah clay yang siap dibentuk menjadi apa saja. Menurut teori psikologi lingkungan, perilaku seseorang (anak) terjadi karena pengaruh umpan balik (pengaruh positif dan negatif) serta pengaruh modelling.

Dalam teori ekologi yang diungkapkan oleh Urie Bronfenbrenner, perilaku seorang anak tidak berdiri sendiri. Perilaku mereka dampak dari interaksi orang yang bersangkutan dengannya di lingkungan tempat tinggalnya. Siapa yang paling berpengaruh? Jelas orangtua, mikrosistem si anak.

Children see children do

https://www.youtube.com/watch?v=5JrtpCM4yMM

Dalam perkembangannya, anak juga memiliki berbagai kebutuhan-selain sandang, pangan, papan-yang harus dipenuhi oleh orangtua. Menurut teori yang dikemukakan oleh Maslow (1978) kebutuhan-kebutuhan tersebut seperti, kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan penghargaan. Terpenuhinya kebutuhan tersebut akan memungkinkan anak mendapatkan peluang untuk mengaktualisasikan dirinya.

Banyak orangtua yang menganggap bahwa ketika anak beranjak remaja, mereka tidak lagi membutuhkan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Mereka menganggap, ketika anak sudah mulai remaja, mereka sudah mandiri dan tidak butuh perhatian lebih. Singkatnya mereka merasa tugas sebagai orangtua telah selesai, sehingga tidak memberikan stabilitas emosi, kasih sayang, dan dukungan. Padahal, walaupun anak sudah remaja mereka tetap anak-anak yang membutuhkan orangtuanya.

Saya pernah bertemu dengan seorang anak remaja yang merasa demotivasi. Anak ini tidak bisa respek kepada dirinya sendiri dan cenderung tidak tahu aturan. Sekali waktu saya pernah berbicara dengannya secara mendalam, menanyakan tentang sikapnya itu. Jawabannya cukup meresahkan.

"Aku merasa rumah itu bukan rumah, tempat-tempat di luar rumah itu barulah rumah. Orangtua aku itu tidak peduli dengan keberadaan aku, apapun yang aku lakukan mereka tidak peduli. Untuk apa aku mengikuti aturan dan menjaga diri, orangtua aku saja tidak peduli. Mereka itu hanya tahu kerja dan kasih aku uang."

Dari raut wajahnya aku melihat sebuah kesedihan, kehampaan, kekosongan. Di tengah kemewahan yang dia dapatkan, dia diselimuti rasa sepi hingga ke relung-relung hati.

Dikutip dari WebMD, menurut Amelia M. Arria, PhD, seorang Direktur Pusat Kesehatan dan Pengembangan Dewasa Muda dari Universitas Marylan, ketika anak-anak berusia antara 13 dan 18 tahun penting adanya bagi orangtua untuk tetap terlibat dalam perkembangannya.

Tugas utama orangtua adalah menyiapkan anak agar lebih mandiri dan menjadi orang dewasa yang berfungsi penuh. Orangtua haruslah menjadi seorang mentor berwawasan luas dan penuh kasih sayang. Jangan memosisikan diri menjadi teman, karena sejatinya mereka membutuhkan kepemimpinan secara moral.

Walaupun kita sering mendapati anak tidak senang jika orangtua memberikan ekspektasi kepada mereka, tapi pada kenyataannya mereka sadar bahwa ekspektasi orangtua adalah sebagai bentuk kepedulian. Jika ekspektasi yang diharapkan orangtua seirama dengan anak, maka si kecil yang beranjak dewasa ini akan berusaha untuk memenuhi apa yang orangtua mereka inginkan. Bagaimana jika kita cuek dan tidak menaruh ekspektasi apapun kepada anak? Anak merasa kita tidak peduli kepada mereka.

"Ah, itu kan teori, pada kenyataannya, kan, kita kerja buat anak kita juga, biar mereka bisa hidup nyaman. Enggak ada waktu, lah, buat nanggepin mereka, udah pada gede juga, pasti bisa ngurus sendiri hidup mereka," ujar salah seorang Ibu,

Apa iya? Karena anak yang saya temui kembali berkata, "Aku lebih baik enggak punya apa-apa, tapi orangtua aku bisa peduli sama aku."

Jika orangtua, yang merupakan mikrosistem anak, tidak lagi peduli terhadap keberadaan anaknya, perasaan anaknya, lantas ke mana anak ini bisa "pulang" untuk menemukan "rumahnya"?

Tidak ada sekolah orangtua, tapi anak bisa menjadi guru terbaik untuk orangtua. Begitupun orangtua juga bisa menjadi guru terbaik untuk anaknya.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Atomicessaysmipa

AES37 Menolong Yunus #waktukukecil3

Tius tak pernah tahu berapa banyak buku dongeng bisa tersimpan di dalam ingatan manusia. Tetapi Tius tahu, semua cerita dongeng ada di ingatan mbah Oyeng. Semua dongeng yang Tius mau, selalu bisa mbah Oyeng ceritakan. Cerita wayang, cerita dongeng seperti yang diceritakan bu guru di TK, atau cerita…

matheusaribowo10
Atomic Essays

AES013 Tidak Semua Rindu Harus Diulang

Sejujurnya dulu saya adalah orang yang tidak suka anak kecil. Tapi bukan tendensi untuk menyakiti (mencubit, pukul atau memelototi), lebih ke saya tidak bisa being nicer to kids aja. Perlahan saya sadari ketidaksukaan pada anak adalah pola yang diturunkan Ibu. Ia bisa dengan tenang bilang dulu tida…

firdabilqis10
Atomic Essays

AES012 Waktu Itu Apa?

Kalau dipikir-pikir, awal mula saya menulis di AES ini dan menyelesaikan tulisan ke 1-9, saya masih menjalani pekerjaan full time. 8 jam sehari, commute 4 jam PP seminggu dua kali, sisanya bekerja di rumah atau di manapun yang ada koneksi internet. Selain itu, saya masih pumping dan menyiapkan asip…

firdabilqis12