AtomicEssay

AES05 - Semakin menjadi

Asep Ramdanpenulis arsip2

Sudah 3 bulan kami menjalankan program merawat tanaman secara konsisten, masih ingat awal-awal tanamannya beberapa ada yang kering dan terlihat mati sepertinya, pelan-pelan setelah diskusi bersama kawanan Bengawan Solo, kami melakukan restorasi, dengan mengganti tanah dan menambah pupuk, terlebih setelah eksperimen nasi, kami percaya bahwa vibrasi dan enerji adalah nyata, sehingga kami rutin setiap hari selama 5 menit, setelah menyiram kami mendoakan, bercerita (bahkan sampai curhat) ke tanaman, selain itu, kami juga memainkan musik rekorder maupun bernyanyi untuk tanaman. Sejauh ini hasilnya tanaman subur dan bentuknya sangat indah.

Pelan-pelan perasaan kawan-kawan ke tanaman semakin menjadi, mereka memberi nama untuk tanamannya, ada namanya Robut, Aryabell dll. Nanti pembaca boleh cek saja di depan kelas 5, hehe. Bahkan yang membuat saya tertegun, saat ini mereka sedang bertukar tanaman yang diurus, harapannya mereka bisa peduli juga pada tanaman yang diurus kawan. Salah satu kawan, berinisiatif untuk membuatkan tutorial merawat tanamannya berikut saya tuliskan :

Tata cara merawat Robut (tanaman punya Armand, Kinar Jojo):

1.Siram biasa

2.Cipratkan air ke daun

3.Doakan

4. Siram gambar

5. Ajak ngobrol daily

6. Be Gentle, jangan kasar 

Inisiatif ini buat saya semakin mengerti, owh mereka semakin merasa memiliki, mereka jadi punya standar sendiri dalam merawat tanamannya. Semoga hal baik ini merembes terus di keseharian. Nah saat ini, kami juga mulai mencari ruang untuk mengintegrasikan hal ini dengan lingkungan sekolah, salah satunya dengan ikut berpartisipasi untuk merawat loseda (lobang sesa dapur) yang ada di kebun, kemarin mereka juga sudah menyimak penjelasan dari Kak Imam, harapannya loseda itu bisa dipanen pupuknya untuk tanaman kami di depan kelas. Semoga hal ini juga semakin merembeskan rasa cinta terhadap lingkungan.

Saya jadi teringat kutipan pengantar Abah Aat Soeratin dari buku Sejuta Tapak Andaliman karya anak-anak SMP SMIPA, yang mengingatkan pesan dari Abah Iwan Abdurahman : Diajar rasa kudu anu karasa, ulah ngan saukur rarasan (belajar rasa, harus melalui 'pengalaman merasakan' agar tidak jadi sekadar seolah-olah merasakan), semoga menjadi orang yangselalu merasa dengan sebenar-benarnya merasakan. 

Komentar (1)

Andy Sutioso

Mantap kak. Hadir juga tulisan kak Asep. Nuhun pisan. Semoga berlanjut kak. Ajak juga kakak2 lain berbagi cerita.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES18 - Mampir ke rumah teman part 2

Hari ini teman-teman berkegiatan di Rumah Jojo, saat tiba kami mulai dengan waktu hening dan sedikit yoga, setelah itu kami menyampaikan maksud bertamu, dan kemudian disambut oleh Pak Philip dan Ibu Firma. Beliau menceritakan sedikit tentang kisah rumahnya. Bahwa bapak menemukan rumah ini tidak sen…

Asep Ramdan20
AtomicEssay

AES17 - Mampir ke rumah teman

Pembelajaran Smipa yang holistik dan tematik, tentunya 'memaksa' fasilitator untuk membuka seluruh panca indera dan hati untuk belajar dan merasa. Bukan sekadar menyampaikan olahan maupun pembelajaran, lebih dari itu, belajar di Smipa menawarkan pengalaman hidup dan memaknai proses belajar. Terkada…

Asep Ramdan21
AtomicEssay

AES16 - Bermusik

Salah satu ciri khas dari Smipa adalah kedekatannya dengan dunia musik. Menurut saya dengan bermainan dan bereksplorasi musik, dapat menjadi ruang untuk lebih 'merasa' dan 'berkomunikasi' dengan cara yang lain. Saat ini, di kelas Bengawan Solo sendiri sedang menggarap proyek musik. Awalnya kami men…

Asep Ramdan30