AtomicEssay

AES050 Memasak Resep Sendiri

Sanyapenulis arsip2

Kemarin hari yang menyenangkan, Sei ada tugas memasak di rumah. Sebelumnya memang sudah ada tugas memasak, tapi resepnya adalah resep favorit keluarga. Waktu itu kami memasak iga garang asam. Itulah pengalaman memasak Sei, yang sebelumnya jika membantu hanya mengaduk dan menuang makanan yang sudah jadi, kali itu pengalaman pertamanya memasak dari nol. Dari mulai memotong daging, memotong bawang, dan menyiapkan bahan pelengkap lainnya. Menurutku resep itu relatif mudah karena berkuah dan tidak memerlukan banyak step. Setelah selesai memasak dia senang, bangga bisa memasak menu favorit keluarga.

Kemarin beda. Dia memasak masakan yang resepnya dia pikirkan sendiri, hasil ide kreatifnya. Memasak campuran masakan Indonesia dan Eropa. Awalnya dia bingung mau membuat menu apa. Aku memancing dengan bertanya apa makanan Indonesia dan Eropa favoritnya? Dia bilang aku suka martabak dan pasta. Lalu kutanya lagi menurutmu enak tidak kalau menggabungkan dua makanan itu? Katanya bisa jadi enak. Aku mau coba. Kemudian dia bertanya apa saja bahan membuat martabak, apa saja bahan membuat pasta keju. Setelah berdiskusi apa saja bahan yang diperlukan untuk membuat dan bagaimana cara membuatnya, dia coba menuliskan resepnya. Lengkap dengan ilustrasi gambarnya. Wah menarik, ini seru sekali dia tampak bersemangat mengerjakannya padahal waktu itu sudah malam sudah mendekati waktu tidurnya tapi dia masih asyik membuat resepnya.

Merasa yakin dan bersemangat karena sudah berhasil membuat resep makanan favorit keluarga, tekadnya semakin kuat untuk membuat resep dengan idenya ini. Namanya Marpene, singkatan dari martabak pasta penne. Berbekal pengalaman berbelanja di supermarket bersama kakak dan teman sekelasnya, kemarin dia berani pergi berdua saja dengan Mak, dengan membawa uang 50.000 pemberian kakak sebagai modal pembuatan makanan kreatifnya.

Kiriman foto dari Mak kemarin membuatku senang wah ternyata Sei sudah bisa berbelanja kebutuhan bahan baku sendiri, tak lupa dia juga membawa buku binder birunya yang berisi daftar bahan yang akan dibeli dan perkiraan harganya. Sore itu Sei berhasil berbelanja, uangnya cukup hanya tersisa beberapa ribu saja. Katanya dia deg-deg an sekali di kasir. Takut uangnya tidak cukup. Hahaha

Sampai di rumah kira-kira pukul 18.30 Sei datang. Masih memakai pakaian taekwondonya dia memintaku untuk menemaninya memasak. Wajahnya antusias, tidak terlihat capek setelah latihan. Katanya dia menunggu momen ini, memasak. Dia pergi ke dapur menyiapkan bahan baku yang sudah dia beli tadi. Mengupas dan mengukus kentang, merebus penne, mencincang bawang, menumis bahan-bahannya semua dia lakukan sendiri. Aku hanya mengawasi, terharu rasanya melihat tekadnya untuk mewujudkan resep buatannya, malah dia lakukan sambil bernyanyi. Lucu sekali.

Bahan isian sudah selesai saatnya membungkus dengan kulit lumpia. Aku contohkan sekali setelah itu dia membuatnya sendiri, 23 buah sampai isiannya habis! Hebat. Padahal setelah ini dia harus menggoreng Marpenenya, tampaknya dia masih semangat. Goreng dengan hati-hati satu persatu. Dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Kira-kira satu setengah jam kemudian, masakan ini baru selesai. Wajah tidak bisa dibohongi, wajahnya tampak lelah. Sudah pasti setelah semua kegiatan hari ini, dia lakukan dengan baik. Aku apresiasi usaha kerasnya hari ini.

Mencoba makanannya tidak kusangka akan enak, dia bangga sekali. Dia bilang tidak kusangka masakanku enak, jerih payahnya hari ini terbayar. Good job!

Pergilah dia ke kamar untuk tidur, matanya tinggal separuh tidak tega aku menyuruhnya mencuci setumpuk cucian piring di dapur. Biarlah hari ini aku mengalah, mencucikan segunung peralatan tadi hahaha

Komentar (1)

joefelus

Eh samaaaa... saya juga cerita tentang anak yang memasak . Hahahaha

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES158 Santai

Bukan kebetulan. Katanya memang semua sudah terencana apik. Saking halusnya sampai terlihat seperti sebuah kebetulan. Ternyata sudah tepat 6 bulan aku terakhir menulis. Waktu itu juga sedang santai, pagi menjelang siang saat rutin pagiku sudah selesai dan entah kenapa rasanya santai. Aku mulai memb…

Sanya32
AtomicEssay

AES157 Januari

Akhir-akhir ini cuaca memang syahdu. Suhu udara menurun, angin mengencang, hujan menderas dan langit menggelap. Matahari yang sebelumnya terasa terik dan perkasa perlahan melembut bersembunyi di balik awan tebal yang siap menghadang cahayanya seakan berujar, “Seterang apapun cahayamu ada saatnya ka…

Sanya21
AtomicEssay

AES156 Hujan

Sudah beberapa hari belakangan siang menjelang sore, cahaya cerah matahari perlahan tertutup awan. Lewat tengah hari hawa menjadi lebih dingin, langit kelabu, seakan sore datang lebih cepat. Tak berapa lama hujan datang, intensitas nya tak menentu bisa gerimis kecil atau hujan lebat. Aku sudah lama…

Sanya20