AES050 Menjadi Petugas Upacara

(Gambar diambil dari kamera hapenya Kak Anzel)
"Tidak pernah terpikirkan" Itulah kalimat yang pertama kali terlintas ketika aku mengetahui bahwa aku akan menjadi pemimpin upacara. Nampaknya, tanggal 17 Juli 2025 akan menjadi tanggal yang berkesan bagi diriku.
Setelah libur panjang, tentu saja kami, sebagai kakak, tidak mungkin menunjuk teman-teman untuk langsung melaksanakan upacara. Maka, kami pun yang mengawali upacara pengibaran bendera.
Jujur saja, aku cukup deg-degan. Tapi kupikir, sampai kapan pun rasa takut akan selalu ada dalam diriku—mau seberapa pun berpengalamannya aku sebagai penampil. Karena bagiku, takut itu bukan untuk dihilangkan, melainkan untuk dihadapi.
Rasa takut adalah bagian paling wajar dari menjadi manusia. Mungkin itu sebabnya aku deg-degan.
Sebelum hari H, tentu kami mempersiapkan diri. Maklum saja, walaupun dulu aku sering mengikuti upacara hari Senin semasa sekolah, aku sedikit lupa bagaimana rangkaian upacara berlangsung. Ditambah lagi, sudah lama aku tidak mempraktikkan teknis baris-berbaris, seperti hadap kanan, hadap kiri, dan sebagainya.
Latihan hari pertama berjalan cukup lancar, namun ya, namanya manusia, aku tetap melakukan beberapa kesalahan—seperti langsung mengucapkan "Mulai" saat mengheningkan cipta, padahal seharusnya menunggu intro dari paduan suara.
Aku menyadari bahwa pada saat latihan pun aku gugup. Mungkin karena aku masih merasa sebagai "orang baru" di lingkungan ini. Setiap gerak-gerikku terasa kaku, dan aku belum leluasa. Mungkin itulah alasan aku terlihat sangat pendiam.
Latihan kedua berjalan lebih baik. Meski hujan turun, kami tetap semangat dan mengalihkan latihan ke pendopo.
Akhirnya, hari yang dinanti tiba: pelaksanaan upacara.
Aku tidak akan menceritakan seluruh rangkaian, hanya bagian yang benar-benar menempel di benakku: saat aku mengarahkan peserta untuk hormat kepada bendera merah putih.
Saat pasukan pengibar berteriak lantang, “Bendera siap!!”
Aku mengatur napas dan berseru,
“Kepada bendera merah putih… hormaaaat... (jeda menunggu padus) gerakkk!”
Saat itu—campur aduk.
Kenapa? Karena seketika itu pula, rekaman memori menyerbu pikiranku.
Aku teringat masa-masa kecilku saat SD, SMP, dan SMA, saat aku menatap bendera yang perlahan dikibarkan. Semua kenangan itu seolah diputar ulang di antara kedua telingaku.
Merah putih itu bukan sekadar kain, melainkan saksi bisu tumbuh kembangku di negeri ini.
Aku sering mencaci negeri ini—dalam kesal, dalam kecewa. Tapi aku mencintainya sepenuh hati.
Bendera merah putih yang berkibar di berbagai tempat selalu memanggil perasaan yang dalam.
Aku pun teringat satu adegan di film Nagabonar, saat sang tokoh utama memberi hormat pada bendera, tubuhnya goyah, ditopang anak-anak muda di belakangnya.
Ia berkata,
“Tahan... tahan... benderanya belum sampai ke atas.”
Tuhan...
Aku mungkin bukan siapa-siapa. Tapi aku sangat mencintai negara ini, dengan cara yang mungkin tak bisa selalu dijelaskan.
Maka, momen ini, menjadi pemimpin upacara di umurku sekarang,
adalah salah satu momen paling berharga dalam hidupku.
Sebagai manusia.
Sebagai manusia Nusantara.
Terima kasih kepada kakak-kakak yang membersamai dan mempercayakan tanggung jawab ini kepadaku.
Demi Tuhan, aku bahagia.
Bahagia menyaksikan merah putih berkibar pada 17 Juli 2025.
Izinkan aku menuliskan puisi berdasarkan apa yang aku rasakan di hari itu.
Nusantara;
Warna merah putihmu
Menjadi saksi tumbuh kembangku
Di sekitaran Pajajaran dan Pasteur
Itulah Indonesia bagiku
Hormatku padamu
Bukan pengkultusan tak wajar
Namun adalah bentuk cinta kasih
Karena aku bernapas di sini
Aku tidak membencimu
Bagaimana bisa
Pada negara yang terbentuk
Oleh darah dan air mata
Yang kubenci adalah mereka
Yang tak bertanggung jawab
Mungkin warnamu kini memudar
Tapi tidak dalam mataku
Untuk Indonesiaku
Terima kasih.
Bandung, 20 Juli 2025
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES 052 Last Dance
Judulnya memang terdengar sangat sinematik ya, hahaha. Tapi entah kenapa judul itu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Tahu tidak kapan aku memikirkannya? Saat bermain bebentengan bersama Teman Tuma dan orang tua mereka. Aura perpisahan sebenarnya tidak terlalu terasa. Namun entah kenapa, saat aku mel…
Rizalk4711AES 051 Barangkali Memang Harus Seperti itu
Tidak terasa sudah hampir satu tahun Kak Rizal membersamai Teman Tuma. Segala bentuk rasa menemani isi hati Kak Rizal selama satu tahun belakangan ini. Kak Rizal jadi semakin tahu bagaimana menjadi manusia seutuhnya, meskipun sampai kapan pun rasanya manusia tidak akan pernah benar-benar genap. Sel…
Rizalk4770
AES049 Kamu Kenapa Sih Meursault?
Beberapa hari lalu aku baru saja menyelesaikan buku yang bertajuk orang aneh The Stranger (L'Étranger) karya Albert Camus, buku ini aku beli di penerbit Kakatua, dan aku sangat senang sih, terjemahannya cukup mudah dimengerti, dan juga aku penasaran terhadap karya Albert Camus. Orang Aneh mencerita…
Rizalk4700