AtomicEssay

AES051 - Penjelajah Waktu di Taman Lansia

Ara Djatipenulis arsip2

Tadi pagi di Taman Lansia, ada seekor kucing yang manis sekali. Dia selalu lompat seperti lumba-lumba kalau dielus-elus, menggesekkan badannya dengan senang. Saat dia sedang duduk-duduk di rumput, lewatlah seorang pria. Kucing itu langsung lari mendekatinya, menempelkan badannya dengan semangat, mengikuti langkah-langkahnya.

 Pria itu punya ransel kemah besar, dengan gelas kaleng tercantol padanya. Sepatunya juga seperti sepatu kemah, pakaiannya juga, aneh untuk dilihat di tengah kota. Tapi lebih aneh lagi, tidak sedikitpun tampak kotor atau kusut. Tampaknya lebih seperti berdebu. Semua barang yang dia bawa juga tampak berdebu, tapi debu yang tidak biasa, seperti debu yang melapis mainan yang kita tinggalkan bertahun-tahun di rak. Tidak tampak seperti debu yang akan melapisi orang, karena orang pada umumnya tidak akan terlapisi debu, karena bergerak. Meski berdebu, semuanya luar biasa bersih dan licin, seperti baru dari toko.

 Ketika kucing itu berlari menyambutnya, pria itu juga menyambutnya dengan senang. Dia terus berjalan, dengan kucing itu berputar-putar di kakinya. Sepertinya mereka saling kenal. Kucing itu sempat menghilang mengikuti temannya, tapi tak lama kemudian muncul lagi di tempat yang sama saat aku pertama melihatnya.

 Dengan pakaiannya dan ranselnya dan langkahnya yang cepat dan tepat dan yakin, pria itu membuatku penasaran. Seru untuk membayangkan dia sesungguhnya siapa. Mungkin dia penjelajah waktu. Mesin waktunya ada di dalam pohon pusat listrik yang ada di Taman Lansia (aku selalu heran dengan pohon pusat listrik karena buat apa menutup-nutupi sesuatu yang jelas bukan pohon supaya seolah pohon). Dia selalu menyapa si kucing karena si kucing adalah bosnya yang memberikan misi, dan informasi yang dia dapatkan kemudian ditransfer lewat belaian dan sentuhan. Dia selalu berdebu karena itulah efek samping dari mesin waktu, dia selalu bersih karena itulah efek preservasi para penjelajah waktu. Itu kenapa Taman Lansia namanya Taman Lansia, bukan karena patung dinonya, tapi karena memang jadi pusat penjelajah waktu.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10