AES054 Tutup Telinga

"Tutup telinga," satu frasa yang sering kita dengar untuk menggambarkan generasi muda masa kini yang dianggap enggan mendengar tak peduli atau bahkan terkesan tidak menghormati norma. Banyak yang beranggapan bahwa anak muda zaman sekarang tidak sopan, tak punya tata krama, dan seakan menutup telinga dari apa yang seharusnya mereka pelajari. Namun apakah benar demikian, atau mungkin kita sendiri yang perlu mendengarkan lebih baik ?
Ada anggapan bahwa generasi sekarang tumbuh dengan sikap yang lebih mandiri, bahkan terkesan keras kepala, berani melawan arus, dan kurang menghormati senioritas. Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan. Namun jika kita melihat lebih dalam, generasi ini sebenarnya dibentuk oleh lingkungan yang berbeda.
Informasi yang serba cepat perubahan budaya yang tak henti dan teknologi yang menghapus batasan antara muda dan tua. Mereka lebih mudah mempertanyakan hal-hal yang tampak sudah tak relevan dan berani membicarakan ketidakadilan yang mungkin sebelumnya diabaikan. Sikap ini bukan sekadar tanda ketidaksopanan, tetapi ekspresi dari generasi yang menginginkan kejelasan dan keberanian untuk menyuarakan pendapat.
Jika generasi ini terlihat seperti "menutup telinga," mungkin itu karena mereka merespons hal-hal dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka menuntut agar setiap ide, tradisi, dan norma dipahami bukan hanya diikuti secara membuta. Bagi mereka rasa hormat bukan sekadar karena usia, tapi karena integritas. Di balik sikap ini, ada dorongan untuk mendengar lebih baik tapi dengan filter yang lebih kritis. Mereka ingin mendengar sesuatu yang mereka anggap bermakna dan jujur, bukan sekadar formalitas.
"Tutup telinga" adalah frasa yang menyederhanakan kompleksitas generasi ini. Mereka mungkin terlihat seperti enggan mendengar, tapi sebetulnya mereka hanya memilih apa yang patut didengar dan dipelajari. Mungkin sebagai generasi yang lebih tua, kita pun perlu sedikit membuka telinga dan belajar memahami bukan sekadar menilai. Dengan saling membuka diri, generasi muda bisa menghormati tanpa harus kehilangan sikap kritisnya dan generasi lama bisa mengapresiasi keberanian berpikir baru tanpa merasa diabaikan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

